Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Kapolres Rohul Mengatakan Tujuh Petugas Kementrian LH Bukan Disandera
PELITARIAU, Rohul - Kapolres Rokan Hulu (Rohul) AKBP Yusup Rahmanto, SIK MH mengatakan tujuh petugas dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bukan disandera massa di Jurong Desa Bonai Kecamatan Bonai Darussalam, namun hanya tidak boleh menyebrang Sungai Rokan pakai ponton.
"Mereka (petugas KLHK) hanya tidak dibolehkan menyebrang, karena jalan lewat feri penyebrangan (ponton)," ujar AKBP Yusup Rahmanto, Ahad (4/9/2016), dan mengatakan petugas KLHK belum sempat menyebrang setelah mengambil foto dan video dokumentasi memakai pesawat tanpa awak atau drone di lokasi kebakaran hutan gambut, dan memasang plang, Jumat (2/9/2016) sore lalu.
Saat mediasi di seberang Sungai Rokan, sambung Kapolres Rohul, masyarakat menyuruh petugas dari KLHK menghapus foto dan video kawasan hutan gambut yang terbakar, termasuk melepaskan plang yang sudah dipasang di lokasi kebakaran.
"Itu (mediasi) sebelum kita dari Polres datang ke lokasi. Dalam tuntutannya lainnya, mereka minta bertemu ibu Menteri LHK (Siti Nurbaya)," jelas Kapolres Rohul kepada wartawan.
AKBP Yusup dan personil Polres Rohul dari berbagai satuan sendiri baru tiba di Jurong Jumat tengah malam sekira pukul 23.30 WIB.
Setelah mediasi cukup lama, Sabtu (3/9/2016) dinihari sekira pukul 02.00 WIB, tim Karlahut dari KLHK dibawa istirahat ke Markas Polsek Bonai Darussalam di Desa Sontang, namun dua mobil dinas dan peralatan ditinggalkan lokasi.
"Ada anggota Intel dan Polsek (Bonai Darussalam) yang menjaga mobil dan peralatan," terangnya.
Kapolres Rohul menambahkan, Sabtu pagi, tim Karlahut dari KLHK kemudian dibawa lagi ke lokasi untuk bertemu masyarakat di dekat ponton, karena ada aspirasi yang mau disampaikan masyarakat.
Hasil mediasi, masyarakat ingin bertemu langsung pihak Pertanahan dan Perkebunan.
Selain itu, tambah AKBP Yusup, masyarakat juga meminta baik media cetak dan elektronik, untuk memberitakan kejadian kebakaran hutan gambut sesuai fakta, yakni soal asal api yang disebut-sebut dari lahan masyarakat.
"Itu versi mereka ya (masyarakat). Menurut masyarakat, di media disebutkan api dari lahan masyarakat, padahal menurut masyarakat faktanya tidak seperti itu," ungkap Kapolres Rohul.
"Masyarakkat juga mengeluhkan, sudah lahannya terbakar, mata pencarian hilang, seolah-olah mereka disalahkan, itu kata mereka saya cuma sampaikan seperti yang di surat (hasil mediasi tulisan tangan)," jelasnya.
"Masyarakat akui padahal mereka cuma jadi korban dan menderita, di media kok tidak akan menguntungkan bagi mereka," tandas AKBP Yusup dan mengakui surat aspirasi warga akan disampaikan ke Plt Bupati Rohul H. Sukiman.***[prc/rht/rls]
Bupati Asmar Percepat Persiapan Lahan Gudang Bulog di Dorak, Targetkan Pembangunan Segera Dimulai
PELITARIAU,Meranti - Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar memimpin rapa.
Pemkab Meranti dan Konsulat Malaysia Perkuat Kerja Sama, Buka Peluang Kerja, Beasiswa, hingga Pasar Produk Lokal
PELITARIAU,Meranti - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti terus memperkuat hub.
Bupati Asmar Ingatkan Pilkades Jangan Sampai Pecah Belah Masyarakat
PELITARIAU,Meranti - Bupati Kepulauan Meranti H. Asmar mengingatkan seluru.
Bupati Asmar Lepas Kontingen E-Sport Meranti, Targetkan Tembus Tiga Besar dan Lolos ke Tingkat Nasional
PELITARIAU,Meranti - Semangat membara mengiringi keberangkatan kontingen E.
Polresta Pekanbaru Terima Asistensi dan Verifikasi Lapangan Scaling Up Inovasi Pelayanan Publik Polri
PELITARIAU, PEKANBARU – Polresta Pekanbaru menerima kunjungan Tim Asistensi da.
Diduga Jadi Korban Begal, Pria di Selatpanjang Akui Rekayasa Cerita Karena Terlilit Utang
PELITARIAU,Meranti - Kabar dugaan tindak pidana pencurian dengan kekerasan (cura.








