Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Penyebutan Keluarga Miskin Diganti dengan Keluarga Prasejahtera, Walikota Pekanbaru Buat Perumpamaan
PELITARIAU, Pekanbaru - Kata 'Keluarga Miskin' pada tanda yang diberikan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru di rumah warga penerima bantuan mendapat sorotan dan kritik berbagai pihak. Kini, kata 'Keluarga Miskin' itu diganti dengan 'Keluarga Prasejahtera'.
Menanggapi itu, Walikota Pekanbaru Dr Firdaus MT mengumpamakan seperti kisah Abu Nawas. Dalam kisah itu, seorang bapak dan anak melewati empat negeri dengan seekor keledai.
Di negeri pertama yang mereka lalui, orang mengomentari sang bapak yang dianggap tega kepada anak lantaran si bapak naik keledai dan sang anak dibiarkan berjalan. "Itulah orang tua yang tega. Anak kecil begitu disuruh jalan. Dia enak naik keledai. Salah lagi," kata Walikota bercerita.
Di negeri kedua, gantian sang anak yang menaiki keledai dan si bapak berjalan. "Itu anak tidak sadar diri. Orang tua disuruh di bawah. Dia enak-enak di atas. Salah lagi," kata dia.
Lanjutnya, di negeri ketiga, keduanya naik keledai. Lalu dikomentari orang senagai orang zalim. "Keledai kecil. Dia naik berdua. Mana sanggup keledainya. Betul-betul manusia zolim. Salah lagi," jelasnya.
Di negeri keempat, keduanya turun dari keledai dan memilih berjalan kaki dengan menggiring keledai. "Di kampung terakhir akhirnya mereka turun. Ini manusia dungu, keledainya ada tapi mereka tidak naik. Salah lagi," kata Walikota.
Ia menyebut, banyak masukan yang meminta agar Pemko Pekanbaru membedakan mana yang klaster 1, klaster 2, klaster 3, dan klaster 4 sebagai penerima. Sebab, dinilai tidak tepat sasaran, dan ada saran agar diberi tanda supaya tepat sasaran.
Ia mengakui banyak juga kritikan yang datang. Kata dia, di media sosial bahkan ada yang mengomentari penempelan tanda itu. "Ada yang komen di medsos saya baca, pak wali sudah jelas itu rumah kayu, kenapa ditulis lagi sudah jelas miskin kok dikasih tanda. Apa pun kebijakan yang diambil tetap salah. Ini soal persepsi," jelasnya. **prc4
sumber: cakaplah
Agrinas Dapat Dukungan Penuh Talang Mamak di Inhu, Patih Edi Darma dan Patih Sibun Ajak Jaga Kebun Yang Dikelola Pancawaskita
PELITARIAU, Inhu - Dukungan terhadap operasional pengelolaan ke.
Polsek Kelayang Lakukan Monitoring, Peternakan Kambing Warga di Kelayang Berkembang Pesat
PELITARIAU, Inhu – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, jaja.
Dikelola PT Pancawaskita, Kebun Agrinas Rakit Kulim Jadi Harapan Ekonomi Baru Masyarakat Talang Mamak
PELITARIAU, Inhu - Dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kebun kelapa sawit o.
Kapolsek Rengat Barat Cek Lahan Jagung Talang Jerinjing, Pastikan Program Ketahanan Pangan Berjalan
PELITARIAU, Inhu - Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus di.
Ini 7 Kegiatan Maraton Ketahanan Pangan Polsek Rengat Barat Di Hari Libur
PELITARIAU, Inhu – Meski dalam suasana hari libur nasional untuk peringatan Ha.
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Polsek Rengat Barat Aktif Dampingi Program P2B
PELITARIAU, Inhu - Dalam rangka mendukung Program Asta Cita Presiden Republik In.









