Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dulu Jual Pupuk, Kini Berhasil Dagang 200 Ribu Keripik hingga Luar Negeri
PELITARIAU, Bandung - Jiwa muda merupakan aset terbaik dari seseorang untuk memulai bisnis kuliner. Berbekal niat dan keingintahuan yang besar membuat seseorang bisa mencapai cita-cita yang tinggi.
Begitu pula yang terjadi dengan laki-laki satu ini. Ia rela menunda kuliahnya dengan mencari uang terlebih dahulu demi membantu perekonomian keluarga.
Reza Nurhilman yang lahir sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara ini berhasil menjadi bos keripik singkong dari Bandung yang kini mendunia. Dulunya ia bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Laki-laki tersebut bernama Reza Nurhilman, merupakan salah satu siswa lulusan SMA tahun 2005 yang pada saat itu sedang mengalami kesulitan perekonomian keluarga. Ditambah lagi, ia tidak mendapatkan figur ayah, hal tersebut mendorongnya untuk bisa mandiri secara finansial dan tidak membebani ibunya lagi.
Ia pun mencoba aneka usaha, setelah itu, ia mulai menjadi tukang jual beli barang elektronik, pupuk, hingga berbisnis MLM. Dari pengalamannya tadi ia pernah ditipu oleh rekannya sendiri. Dari sana ia pun belajar untuk bisa lebih selektif dalam memilih rekan kerja.
Reza mengaku sempat jatuh dan harus mengumpulkan semangat serta keinginan untuk terus berusaha. Hal itu dialaminya selama satu bulan penuh. Setelah itu, ia memutuskan untuk masuk ke Jurusan Manajemen di salah satu universitas swasta di Bandung.
Dengan bekal uang tabungannya, ia bisa menduduki bangku perkuliahan. Dari sana ia bertekad untuk lebih bisa mengamalkan ilmu pelajaran yang didapatkan dan membantu mengelola usahanya nanti.
Setelah setahun kuliah, ia sempat mengikuti acara yang membuat ia berani untuk membuat bisnis usaha keripik berbahan singkong. Rasa yang membuatnya langsung tak pikir panjang untuk bisa menjalin kerja sama.
Lalu ia mengambil langkah dari nol, yakni berjualan memakai bakul plastik dan menawarkan Maicih buatannya kepada teman-temannya. Dengan modal Rp 15 juta di awal, ia memproduksi 50 bungkus sehari. Semula ia hanya menawarkan varian keripik dan gurilem saja.
Setelah itu, Reza memasarkan bisnis kulinernya ini melalui media sosial, dan benar saja di sana ia juga bisa mendapat reseller dengan pendapatan Rp 30 juta setiap harinya.
Dengan harga yang dibanderol mulai dari Rp 11–15 ribu per bungkusnya, kini ia bisa berjualan hingga 200 ribu bungkus setiap bulannya.
Namun dulu Keripik Maicih sempat mengalami kendala, di mana produsen keripik mengaku tidak mampu memproduksi sebanyak yang diminta oleh perusahaan. Sejak saat itu, Reza mau tidak mau harus mencari produsen baru.
Butuh waktu satu bulan baginya untuk menemukan produsen yang mampu produksi keripik sejumlah yang dibutuhkannya. Bahkan Maicih sempat mendapat protes karena tidak menyajikan rasa seperti yang awal mula konsumen rasakan.
Namun ia tidak patah semangat, hingga akhirnya ia bisa bangkit dan kembali percaya diri dengan produknya tadi. Sejak saat itu, Reza sering diundang untuk menjadi pembicara di berbagai universitas, padahal dirinya masih duduk dan harus kembali menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah.
Untuk tetap membesarkan bisnisnya ini, ia juga membutuhkan strategi tersendiri, hingga trik marketing yang berbeda dibandingkan dengan produk lainnya.
Ia sempat mengadakan rapat evaluasi dan memberi pelatihan kepada Jenderal Maicih --sebutan distributornya-- yang tersebar di seluruh Indonesia untuk membentuk kepribadian mereka supaya tangguh.
Dulunya ia sempat tidak mau menjual produknya di supermarket atau pasar, namun karena perubahan zaman yang begitu pesat, kini kamu bisa menemukan Maicih di supermarket terdekat. Reza juga memasarkan keripiknya hingga ke Malaysia, Australia, Thailand, Kanada, dan Amerika Serikat.
Semua produksinya kini masih berpusat di pabrik yang terletak di Ciamis, Jawa Barat. Bahkan, setiap harinya ia menghabiskan 2-5 ton singkong mentah.
Setelah 10 tahun berdiri, omzet yang dimilikinya sempat menyentuh angka Rp 3 miliar setiap bulannya dengan produksi ratusan ribu bungkus per harinya.
Setelah membaca kisah inspiratif di atas, apakah kamu ingin membuat bisnis kuliner mu sendiri seperti apa yang Reza lakukan? **prc4
Agrinas Dapat Dukungan Penuh Talang Mamak di Inhu, Patih Edi Darma dan Patih Sibun Ajak Jaga Kebun Yang Dikelola Pancawaskita
PELITARIAU, Inhu - Dukungan terhadap operasional pengelolaan ke.
Polsek Kelayang Lakukan Monitoring, Peternakan Kambing Warga di Kelayang Berkembang Pesat
PELITARIAU, Inhu – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, jaja.
Dikelola PT Pancawaskita, Kebun Agrinas Rakit Kulim Jadi Harapan Ekonomi Baru Masyarakat Talang Mamak
PELITARIAU, Inhu - Dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kebun kelapa sawit o.
Kapolsek Rengat Barat Cek Lahan Jagung Talang Jerinjing, Pastikan Program Ketahanan Pangan Berjalan
PELITARIAU, Inhu - Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus di.
Ini 7 Kegiatan Maraton Ketahanan Pangan Polsek Rengat Barat Di Hari Libur
PELITARIAU, Inhu – Meski dalam suasana hari libur nasional untuk peringatan Ha.
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Polsek Rengat Barat Aktif Dampingi Program P2B
PELITARIAU, Inhu - Dalam rangka mendukung Program Asta Cita Presiden Republik In.









