Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Anjloknya Harga Minyak Dunia Ancam Investasi Industri Migas Indonesia
PELITARIAU.com – DBS Group Research menyatakan bahwa kondisi sektor industri minyak dan gas bumi (migas) Indonesia masih menghadapi masa sulit dengan anjloknya harga minyak dunia. Harga minyak dunia yang rendah menyebabkan perusahaan industri migas kesulitan untuk menaikkan dana investasi.
Bahkan, Analis Ekonomi DBS Group Research, William Simadiputra, memprediksi terdapat dua faktor yang memengaruhi pemulihan sektor industri migas dalam jangka panjang, di antaranya harga minyak dan belanja modal (capex) ke perusahaan migas besar.
"Kejatuhan harga minyak yang terjadi sejak pertengahan 2014 telah memaksa perusahaan memangkas belanja modal di tengah tingginya biaya produksi," ucapnya dalam keterangan tertulis yang diterima VIVA.co.id pada Jumat, 21 Oktober 2016.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat (AS) dibuka turun US$1,17 atau 2,3 persen di US$50,43 per barel. Sedangkan, harga minyak mentah Eropa, Brent, jatuh US$1,35 atau 2,56 persen di US$51,32 per barel.
DBS mengkaji bahwa faktor kunci yang dapat memperbaiki turunnya harga minyak mentah dunia, antara lain pertama, keberhasilan konsolidasi industri melalui proses merger dan akuisisi. Kedua, kemampuan perusahaan migas besar menaikkan belanja modal.
Lalu, ketiga, peningkatan utilisasi penggunaan rig pengeboran. Keempat, hingga kemampuan perusahaan kapal penunjang lepas pantai melakukan pergantian kapal-kapal tua.
"Jika harga minyak berhasil pulih, perusahaan industri yang bakal langsung menikmati hasilnya adalah yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi," ujarnya.
Sedangkan bagi perusahaan pengolahan (refining), kenaikan harga minyak mentah bisa menurunkan margin keuntungan. Namun, penurunan tersebut ia katakan bisa ditutup dari stok yang melimpah yang dibeli saat harga minyak rendah.
"Tantangan terbesar yang dihadapi industri berasal dari ketidakpastian politik dan kebijakan. Di sisi lain, pemerintah masih lambat melakukan reformasi tata kelola migas," ucapnya.
Dalam situasi saat ini, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. Persoalannya, upaya pemerintah melakukan pembenahan pun belum optimal mendorong produksi migas nasional.***(prc)
Agrinas Dapat Dukungan Penuh Talang Mamak di Inhu, Patih Edi Darma dan Patih Sibun Ajak Jaga Kebun Yang Dikelola Pancawaskita
PELITARIAU, Inhu - Dukungan terhadap operasional pengelolaan ke.
Polsek Kelayang Lakukan Monitoring, Peternakan Kambing Warga di Kelayang Berkembang Pesat
PELITARIAU, Inhu – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, jaja.
Dikelola PT Pancawaskita, Kebun Agrinas Rakit Kulim Jadi Harapan Ekonomi Baru Masyarakat Talang Mamak
PELITARIAU, Inhu - Dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kebun kelapa sawit o.
Kapolsek Rengat Barat Cek Lahan Jagung Talang Jerinjing, Pastikan Program Ketahanan Pangan Berjalan
PELITARIAU, Inhu - Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus di.
Ini 7 Kegiatan Maraton Ketahanan Pangan Polsek Rengat Barat Di Hari Libur
PELITARIAU, Inhu – Meski dalam suasana hari libur nasional untuk peringatan Ha.
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Polsek Rengat Barat Aktif Dampingi Program P2B
PELITARIAU, Inhu - Dalam rangka mendukung Program Asta Cita Presiden Republik In.








