DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Pekerja PETI Japura Inhu Kurapan, Diduga Terkena Merkuri

Editor :Rio Ahmad Selasa,29 Maret 2016 | 06:29:00 WIB
Pekerja PETI Japura Inhu Kurapan, Diduga Terkena Merkuri Ket Foto : Pekerja PETI di Japura mengelami penyakit gatal-gatal

PELITARIAU, Rengat — Baru sebulan beroperasi, para pekerja diduga Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) didesa Japura Kecamatan Lirik Kabupaten Indragiri hulu (Inhu) Riau, mengalami penyakit gatal-gatal seperti kurap. Penyakit tersebut disebabkan oleh aktifitas PETI yang diduga pekrja menggunakan merkuri atau sering disebut air raksa yang mengenai kulit saat melakukan penambangan emas.

Saat ditemui Pelitariau.com Selasa (29/3/2016), Nurli (45), Salah satu pekerja tambang yang berasal dari desa Batu Rijal Kec Peranap Inhu mengatakan bahwa para pekerja mulai merasakan gatal pada kulit mereka. "Semuanya pada merasa gatal-gatal, seperti kurap gitu," ungkap Nurli.

Dari hasil penelitian merkuri adalah satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair, tidak berbau, berwarna keperakan, dan mengkilap. Merkuri akan menguap bila dipanaskan sampai suhu 357 derajat Celcius.

"Merkuri dapat dijumpai di alam seperti di air dan di tanah, terutama dari deposit alam, limbah industri, dan aktivitas vulkanik. Dalam pertambangan emas misalnya, merkuri digunakan dalam proses ekstraksi dan pemurnian hasil tambang emas," ujar Dr rer nat Budiawan dari Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan Universitas Indonesia (UI) sebagaimana dikutip tabloid Nova, belum lama ini.

Menurut dosen FMIPA UI ini, karena sifat ionnya yang mudah berinteraksi dengan air, merkuri mudah memasuki tubuh melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, inhalasi (pernafasan), atau lewat makanan atau makanan. Jadi, tanpa sadar, manusia menumpuk merkuri dalam tubuhnya. Bila masuk melalui kulit akan menyebabkan reaksi alergi berupa iritasi kulit.

"Reaksi seperti ini tidak perlu menunggu lama. Cukup mandi beberapa kali di sungai atau di laut yang tercemar merkuri, kulit pun akan segera mengalami iritasi," ujar Budiawan.

Pekerja yang biasa menggunakan merkuri berisiko tinggi menghirup uap merkuri lewat hidungnya. Uap yang terhirup ini dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernafasan dan paru. "Saraf juga bisa rusak,"jelas Budiawan.

Dampak masuknya merkuri ke dalam tubuh biasanya muncul dalam waktu lama. Bisa bulanan atau tahunan, tergantung kadar merkuri yang masuk. Merkuri akan menumpuk dan selanjutnya mengganggu fungsi ginjal atau sering disebut nefrotoksik.**(surya/nova)


Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved