Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Masyarakat Pulau Rangsang
Sulit Mendapatkan Kayu, Membangun Rumah Pakai Batang Kelapa
PELITARIAU, Selatpanjang - Sulitnya mendapatkan bahan baku kayu alam untuk membangun rumah di sejumlah Desa di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, membuat masyarakat setempat mulai beralih menggunakan bahan baku pohon kelapa.
Muslim, salah seorang warga Desa Melai, Kecamatan Rangsang Barat, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan, kepada wartawan, Senin (22/9) mengaku sudah tidak lagi menggunakan bahan kayu alam untuk membangun rumah masyarakat.
"Beberapa tahun terakhir kami sulit mendapatkan kayu alam untuk dijadikan material bangunan rumah. Kondisi itu karena punahnya kayu alam dilibas oleh perusahan tanaman akasia yang berbekal izin areal Hutan Tanaman Industri (HTI) di Pulau Rangsang. Sebagai bahan pengganti kayu alam untuk membangun rumah, terpaksa kami memanfaatkan pohon kelapa," ujarnya.
Kalau dulu, kata Muslim, masyarakat Pulau Rangsang jika ingin membangun rumah atau membuat bangunan lainnya seperti jembatan kayu, pagar, keranda mayat dan bangunan proyek, tinggal masuk ke dalam hutan dan langsung memilih sendiri kayu jenis apa yang diperlukan.
"Tapi sekarang ini jangankan mencari kayu alam yang dulu banyak tumbuh rindang, wilayah hutannya saja sudah tidak ditumbuhi kayu, yang ada hanya semak-semak belukar dan galian kanal perusahaan," ungkap Muslim.
Sementara kalau harus membeli kayu alam dari luar Pulau Rangsang, ujarnya, selain harganya mahal, para pemilik kapal pun mulai enggan membawa kayu itu. "Sebab sekarang ini kapal bawa kayu untuk keperluan bangun rumah saja ditangkap oleh aparat, jadi masyarakat takut," ucapnya.
Maka sejak setahun terakhir, lanjutnya, untuk mensiasati persoalan itu, maka masyarakat setempat, khususnya mereka yang kondisi perekonomianya kurang mampu, mulai banyak yang memanfaatkan pohon kelapa untuk dijadikan material bangunan.
"Saya sudah mengerjakan lima rumah masyarakat yang bahan bakunya dari pohon kelapa. Memang dari segi ketahanan tidak lebih baik, tapi kita cari aman dan murahnya dulu, dari pada membeli kayu dari luar pulau menghabiskan dana yang tidak sedikit serta beresiko, makanya warga kita mulai melirik pohon kelapa yang usianya sudah tua dan buahnya tidak produksi lagi," kata Muslim (kor. nto)
Editorial: Rio Ahmad
Agrinas Dapat Dukungan Penuh Talang Mamak di Inhu, Patih Edi Darma dan Patih Sibun Ajak Jaga Kebun Yang Dikelola Pancawaskita
PELITARIAU, Inhu - Dukungan terhadap operasional pengelolaan ke.
Polsek Kelayang Lakukan Monitoring, Peternakan Kambing Warga di Kelayang Berkembang Pesat
PELITARIAU, Inhu – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, jaja.
Dikelola PT Pancawaskita, Kebun Agrinas Rakit Kulim Jadi Harapan Ekonomi Baru Masyarakat Talang Mamak
PELITARIAU, Inhu - Dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kebun kelapa sawit o.
Kapolsek Rengat Barat Cek Lahan Jagung Talang Jerinjing, Pastikan Program Ketahanan Pangan Berjalan
PELITARIAU, Inhu - Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus di.
Ini 7 Kegiatan Maraton Ketahanan Pangan Polsek Rengat Barat Di Hari Libur
PELITARIAU, Inhu – Meski dalam suasana hari libur nasional untuk peringatan Ha.
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Polsek Rengat Barat Aktif Dampingi Program P2B
PELITARIAU, Inhu - Dalam rangka mendukung Program Asta Cita Presiden Republik In.









