• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Sindikat
  • Politik
  • Riau Raya
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Kepulauan Meranti
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Siak
    • Pekanbaru
  • Legislator
    • DPRD Pelalawan
    • DPRD Kuantan Singingi
    • DPRD Rokan Hilir
    • DPRD Rokan Hulu
    • DPRD Bengkalis
    • DPRD Dumai
    • DPRD Kepulauan Meranti
    • DPRD Indragiri Hilir
    • DPRD Indragiri Hulu
    • DPRD Kabupaten Kampar
    • DPRD Kabupaten Siak
    • DPRD Pekanbaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • More
    • Sastra & Budaya
    • Nasional
    • Tausiah
    • Sosialita
    • Tokoh
    • Kopi Paet
    • Pelitariau TV
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
Dibaca : 1054 Kali
Dheni Kurnia Kembali Pimpin JMSI Riau, Perkuat Media Siber Untuk Jurnalime Berkualitas
Dibaca : 2315 Kali
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Dibaca : 2680 Kali
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Dibaca : 5230 Kali
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dibaca : 2391 Kali

  • Home
  • Tokoh

Oleh: Samsir Pohan

Fatimah Azzahra Curiga pada Negara

Admin

Kamis, 25 Juni 2026 18:01:12 WIB
Cetak
Fatimah Azzahra Curiga pada Negara
Samsir Pohan

PELITARIAU.com - Pernah mendengar orasi Fatimah Azzahra? Mahasiswi aktif di Fakultas Kedokteran UI. Jika gemar menggulir-gulir (scrolling) medsos, mungkin Anda pernah melihatnya. Saya melihatnya beberapa kali, saat orasi dan berargumen dalam acara televisi. Di situ juga ada Hasan Nasbi, Penasehat Presiden Bidang Komunikasi. 

Saya menonton perdebatan itu berulang. Setidaknya dua kali. Bukan untuk mencari siapa yang menang. Tapi rasanya saya menemukan seseorang yang dulu saya pernah ingin menjadi sepertinya sewaktu mahasiswa: kritis, cerdas, bernas. 

Tak banyak referensi, tentang Fatimah saya hanya mengikutinya dari unggahan berita laman media sosial. Dalam satu unggahan, Fatimah berpose dengan mengepal tangan di samping makam senior sepuhnya di Kedokteran UI, Arief Rachman Hakim. Pahlawan Ampera yang wafat pada 24 Februari 1966. Ia menulis caption di unggahan bertanggal 10 Mei 2026:

"Bila tidak gugur oleh peluru negara kala itu, mungkin hari ini ia telah menjadi seorang dokter senior. Mungkin ia akan mengajarkan kepada kami, mahasiswa FK UI zaman ini, bukan hanya tentang menjadi dokter, tetapi juga tentang menjadi mahasiswa yang terus bergerak. Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah mereka yang telah diteguhkan hatinya saat berdiri di hadapan kezaliman... "

Banyak yang takjub pada keandalan orasi dan kecakapan komunikasinya yang elegan. Berani, logis dan bernas. Mungkin karena mahasiwa sepertinya agak langka. Melalui suaranya, banyak yang merasa terwakilkan. 

Belakangan ini, debat politik di televisi acapkali diwarnai saling potong pembicaraan. Karena itu saya terkejut ketika seorang mahasiswi justru menarik diskusi ke wilayah yang lebih mendasar: bagaimana mestinya kita mendefinisikan keberhasilan negara.

Negara lebih suka bercerita tentang keberhasilannya saja Angka ditampilkan. Program diumumkan, pita dipotong, kamera menyala, lalu tepuk tangan terdengar. Padahal demokrasi tidak lahir dari tepuk tangan. Demokrasi justru lahir dari pertanyaan demi pertanyaan. 

Di tengah riuh rendah narasi keberhasilan itu, seorang Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI, berdiri dan berbicara. Ia tidak berteriak. Tidak menggebrak-gebrak meja.Tak ikut merubuhkan pagar, juga tidak melempar tuduhan besar. Ia hanya mengajukan pernyataan yang sederhana. 

"Ada sesuatu yang lebih genting dari mengisi perut lapar, yaitu bagaimana anak-anak di daerah yang akses pada sekolahnya masih terhambat."

Kalimat itu terdengar biasa, namun mengandung sesuatu yang sering hilang dalam perdebatan publik: keberanian untuk melihat akar masalah.

Memberi makan anak yang lapar adalah tindakan baik. Tidak ada yang membantah itu. Tetapi mengapa anak itu lapar? Mengapa sekolah masih sulit dijangkau? Mengapa pelayanan dasar belum merata? Pertanyaan-pertanyaan itu lebih sunyi.

Negara sering sibuk mengobati gejala. Padahal rakyat membutuhkan negara yang berani menyembuhkan sebab. Ibnu Sina pernah menyebut perbedaan antara gejala dan sebab. Politik sering sibuk pada gejala. Sementara kebijakan publik yang baik harus berani menyentuh sebab. Fatimah mengulang logika yang sama ketika berbicara tentang korupsi.

"Adanya korupsi dan ditangkap itu bukan bukti keberhasilan, tetapi bukti bahwa sistem yang dibentuk masih gagal."

Banyak orang marah mendengar kalimat itu. Padahal yang sedang dipersoalkan bukan penegakan hukum. Yang dipersoalkannnya adalah ukuran keberhasilan.

Menangkap koruptor memang penting. Tetapi negara yang baik tidak diukur dari banyaknya koruptor yang ditangkap. Negara yang baik diukur dari sedikitnya koruptor yang lahir.

Perbedaan itu tampak kecil. Sesungguhnya sangat besar. Yang satu memuji pemadam kebakaran. Yang lain bertanya mengapa kebakaran terus terjadi. Lalu datang kalimat yang lebih tajam.

"Kalau orang yang jaraknya satu meter ada yang korupsi, bagaimana yang jauh-jauh di sana?"

Ia tidak sedang menyerang seseorang. Ia sedang menguji sebuah sistem. Sebab kekuasaan sering ingin dinilai dari keberhasilannya menghukum pelanggar. Padahal rakyat sering bertanya mengapa pelanggaran itu bisa terjadi sejak awal. 

Pertanyaan seperti itu tidak lahir dari kebencian kepada negara, justru lahir dari kepedulian. Karena itu kalimat Fatimah yang paling penting mungkin bukan tentang korupsi atau makan bergizi gratis. Kalimat terpentingnya adalah ketika ia mengatakan bahwa warga negara harus curiga terhadap negara.

Banyak orang langsung salah paham. Curiga bukan berarti membenci. Bukan berarti menolak semua kebijakan. Bukan berarti menjadi musuh pemerintah. Curiga adalah menjaga akal sehat.

Dalam perspektif Antonio Gramsci, perdebatan semacam itu bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pertarungan untuk menentukan apa yang dianggap sebagai "akal sehat" dalam masyarakat.

Sejarah mengajarkan satu hal sederhana: kekuasaan yang tidak diawasi akan cenderung tergoda untuk melampaui batasnya. Tidak penting siapa yang berkuasa, partainya apa atau ideologinya apa. Kekuasaan selalu membutuhkan pengawasan. Karena itu tugas warga negara bukan hanya memilih pemimpin, tapi juga mengawasinya. 

Mahasiswa memahami hal itu sejak lama. Mereka tidak ditunjuk menjadi mandataris pendukung kekuasaan. Mereka juga tidak diberi mandat untuk menjadi pembenci kekuasaan. Mereka diberi mandat untuk berpikir dan berlatih. Ada yang menempuh jalan 'Korea', ada pula yang memilih menjadi 'ronin'. Tak masalah. Mereka anak kandung zamannya. 

Berpikir sering kali membuat seseorang terlihat tidak nyaman. Sebab berpikir berarti mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah selesai.

Ketika negara berkata program berjalan baik, mereka bertanya siapa yang belum terjangkau. Memang begitu. Keberhasilan tak dipuji, kecurigaan diuji, dan kegagalan dievaluasi. Begitulah doktrin aktivisme mahasiswa. Mestinya jauh dari budaya puja-puji kekuasaan. Istilah anak Medan; "umbang" dan "engkol".

Ketika negara berkata koruptor berhasil ditangkap, mereka bertanya mengapa korupsi masih terjadi. Ketika negara berkata semuanya terkendali, mereka bertanya siapa yang belum didengar.

Demokrasi membutuhkan orang-orang seperti itu. Bukan karena mereka selalu benar. Tetapi karena kekuasaan tidak boleh menjadi satu-satunya pihak yang berhak menentukan apa yang disebut benar.

Pada akhirnya, ukuran negara yang sehat bukanlah seberapa keras ia dipuji. Ukuran negara yang sehat adalah seberapa kuat ia bertahan menghadapi kritik. Pun, ukuran warga negara yang baik bukanlah seberapa patuh ia kepada kekuasaan. Sebab cinta kepada negara tidak selalu ditunjukkan dengan tepuk tangan.

Kadang kala cinta itu hadir dalam bentuk pertanyaan yang tidak nyaman. Dan sejarah menunjukkan, pertanyaan yang tidak nyaman sering kali lebih berguna daripada seribu pujian yang menyenangkan. Ya, nyamuk mati juga karena tepukan tangan. 

Kembali pada Fatimah sebagai penutup. Saya tidak selalu sepakat dengan seluruh argumentasi Fatimah Azzahra. Namun saya melihat pada dirinya sesuatu yang semakin langka dalam ruang publik kita. Yaitu keberanian untuk menggeser perdebatan dari program menuju sistem. Dari akibat menuju sebab. Dalam demokrasi yang sehat, keberanian semacam itu lebih berharga daripada keseragaman pendapat. Hidup mahasiswa Indonesia! **

Penulis adalah, Samsir Pohan  warga Kota Medan, pernah aktif di organisasi kemahasiswaan.



 Editor : Ramadana

[Ikuti PelitaRiau.Com


pelitariaumedia

BERITA LAINNYA +INDEKS

Tokoh

JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma

Sabtu, 02 Mei 2026 - 19:13:48 WIB

PELITARIAU.com - KITA hidup di era ketika kecepatan mengalahkan kedalaman, dan s.

Tokoh

Duka atas Kebakaran SMA Negeri 1 Meranti dan Harapan Transparansi

Kamis, 02 Oktober 2025 - 14:23:45 WIB

PELITARIAU.com - Kebakaran yang melanda SMA Negeri .

Tokoh

Risnandar Mahiwa Pj Walikota, Terbukti Korupsi dan Dilupakan Masyarakat

Ahad, 28 September 2025 - 23:18:20 WIB

PELITARIAU.Com - Sudah jatuh ditunggu kaca. Itu slogan anak-anak muda sekarang. .

Tokoh

Harlah KNPI, Iyai Mirza Berikan Kesempatan Pemuda Lampung Berpartisipasi Bangun Ekonomi Daerah

Kamis, 31 Juli 2025 - 21:08:57 WIB

PELTARIAU, Lampung - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak pemuda di .

Tokoh

Konsistensi ASEAN dalam Mendukung Palestina

Rabu, 09 Juli 2025 - 13:36:37 WIB

PENDERITAAN bangsa Palestina masih menjadi salah satu persoalan paling krusial d.

Tokoh

Dirgahayu Polri, Polisi Ideal Itu Ada?

Senin, 30 Juni 2025 - 18:37:51 WIB

SETIDAKNYA ada tiga makna yang dapat kita ambil dari sebuah perayaan  hari .

Terkini

  • +INDEX
Fatimah Azzahra Curiga pada Negara
25 Juni 2026
Kemacetan panjang Sempat Melanda kawasan Jalan Lintas Timur KM 75 Pelalawan, Polisi Tindak Tegas Pengendara Nakal
25 Juni 2026
Gubernur Khofifah Terima Pengurus JMSI Jatim di Kantornya
25 Juni 2026
Wakapolres Tinjau Progres Sumur Bor, Solusi Air Bersih Bagi 100 KK di Selatpanjang Timur
25 Juni 2026
Polsek Kemuning Salurkan Sembako kepada Warga dalam Rangka Hari Bhayangkara ke-80
25 Juni 2026
Kapolres Cup Bergulir: Mini Soccer Bhayangkara Ke-80 Buka Silaturahmi Lewat Bola
25 Juni 2026
Bhabinkamtibmas Desa Belaras Barat, Koordinasi Pendataan Lahan Jagung Dukung Swasembada Pangan di Kecamatan Mandah
25 Juni 2026
Razia Rutin Blok Hunian, Guna Antisipasi Gangguan Keamanan dan Ketertiban
25 Juni 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Turnamen Mobile Legends Kapolri Cup Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80
25 Juni 2026
Polantas Menyapa Persimpangan Jalan, Puluhan Helm SNI di Bagikan dan Ajak Pengendara Patuhi Tata Tertb Berlalu Lintas
25 Juni 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Hari Bhayangkara ke 80 Kampung Tangguh Anti Narkoba Banglas Barat di Nilai Polda Riau
  • 2 Lepas Kafilah ke MTQ Riau, Meranti Targetkan Prestasi di Kuansing
  • 3 Kapolres Cup Mobile Legends Resmi Dibuka 42 Tim Ikut Berlaga
  • 4 Dapat Anugrah JMSI Award, Kapolda Riau: Saya Terima Dengan Senang Hati
  • 5 Pemkab Kepulauan Meranti Perjuangkan Nasib Pekerja Migran di Forum Sosek Malindo
  • 6 Tembus Ketingkat Nasional, Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia Komwil Meranti Sabet 50 Medali
  • 7 Musibah di Perairan Selat Ringgit, Nahkoda dan Seluruh ABK Selamat

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

PelitaRiau.Com ©2014 | All Right Reserved