Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Empat Varietas Lokal Ubi Kayu (Monihot Esculenta), Sebagai Sumberdaya Genetik yang Perlu Dilestarika
PELITARIAU, Kepri - Singkong atau ubi kayu berasal dari Brazilia, Amerika Selatan yang menyebar ke Asia pada awal abad ke 17 dibawa oleh pedagang Spanyol dan Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Ubi kayu merupakan makanan pokok di beberapa Negara di Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubi kayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri untuk pakan ternak. Ubi kayu mengandung air sekitar 60% pati (25-35%) protein, mineral, serat, kalsium dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibandingkan padi, jagung, ubi jalar dan sorghum. Ubi kayu mengandung HCN yang terdapat di dalam umbi dan daunnya. Untuk keperluan makanan dan pakan ternak digunakan ubi kayu yang kadar HCN rendah (kurang dari 50 ppm), sedangkan untuk bahan industri digunakan ubi kayu yang berkadar HCN tinggi (Hanarida et al., 2008, Komisi Nasional Plasma Nutfah, 2008).
Upaya pelestarian sumberdaya genetik tanaman lokal dan spesifik seperti ubi kayu perlu dilakukan agar kekayaan alam di masing-masing daerah terlindungi. Terkait dengan hal ini maka pada tahun 2019 BPTP Kepri bersama sama dengan Direktur Perbenihan Dirjen TP, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri dan Dinas Ketahanan pangan dan Pertanian Bintan serta BPSB Riau, melakukan identifikasi dan karakterisasi varietas lokal ubi kayu.
Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., menjelaskan, serangkaian kegiatan identifikasi dan karakteristik varietas local ubi kayu tersebut dimulai dari pertemuan tim, pengumpulan materi genetik kemudian CPCL yang dilakukan pada bulan Oktober 2019 di Kampung Poyotomo Bintan Buyu Teluk Bintan Kabupaten Bintan, dengan tujuan untuk melindungi keberadaan SDG sekaligus pengembangan dalam skala yang lebih luas di Kepulauan Riau.
Peneliti BPTP Kepri, dr. Salfina Nurdin A. MP., menuturkan, ubi kayu di Kepulauan Riau khususnya di Kabupaten Bintan digunakan sebagai bahan industri pangan rumah tangga: keripik singkong dan bolu dan pangan kue lainnya. Populasi ubi kayu cukup luas di Kabupaten Bintan sekitar 200 ha. Pada tahun 2019, BPTP Kepri bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan bersama -sama melakukan eksplorasi sumberdaya genetik ubikayu lokal yang berada di Kabupaten Bintan, Hal ini dalam rangka untuk mengidentifkasi dan mengkarakterisasi SDG ubi kayu sebagai pelestarian plasma nutfah yang ada di Kabupaten Bintan.
“Berdasarkan hasil eksplorasi dan identifikasi bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Propinsi Kepulauan Riau, terdapat beberapa varietas unggul lokal yang sedang dikembangkan, antara lain varietas Monggo Bintani, Jantung Bintani, Sapat Hitam Gemilang dan Sappat Putih Gemilang. Pertanaman ubikayu ini dikembangkan oleh Kelompok Tani Sido Makmur, Subur Makmur dan Maju Berkah, Desa Gunung Kijang, kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan sekitar 50 ha. Berdasarkan perkembangan pertanaman tersebut, diperkirakan akan panen ubi kayu tersebut pada bulan Agustus 2020,” kata Salfina.
Guna menjamin ketersediaan bibit ubi kayu unggul tersebut dengan jumlah produksi yang besar, maka perlu diadakan bibit unggul bersertifikat melalui proses pemberian sertifikasi atas cara perbanyakan, produksi dan penyaluran benih sesuai atas dengan peraturan yang telah ditetapkan. Keunggulan dari setiap varietas mempunyai produksi yang tinggi bisa mencapai 20 kg dalam satu pohonnya.
“Terkait dengan ketersediaan bibit yang unggul ubi kayu lokal Kepri, maka perlunya pengembangan bibit dengan mitra melalui peningkatan kerjasama dengan Direktorat Benih Dirjen TP Kementan, DKPPKH Prov Kepri dan petani penangkar setempat,“ pungkas Sugeng.
Empat varietas tersebut mempunyai keunggulan masing-masing sebagai bahan industri pangan yang berbeda, seperti jenis sapat hitam bintani digunakan sebagai bahan untuk kue bolu dan sapat putih gemilang digunakan sebagai keripik singkong. **prc4
sumber: elitnews
Agrinas Dapat Dukungan Penuh Talang Mamak di Inhu, Patih Edi Darma dan Patih Sibun Ajak Jaga Kebun Yang Dikelola Pancawaskita
PELITARIAU, Inhu - Dukungan terhadap operasional pengelolaan ke.
Polsek Kelayang Lakukan Monitoring, Peternakan Kambing Warga di Kelayang Berkembang Pesat
PELITARIAU, Inhu – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, jaja.
Dikelola PT Pancawaskita, Kebun Agrinas Rakit Kulim Jadi Harapan Ekonomi Baru Masyarakat Talang Mamak
PELITARIAU, Inhu - Dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kebun kelapa sawit o.
Kapolsek Rengat Barat Cek Lahan Jagung Talang Jerinjing, Pastikan Program Ketahanan Pangan Berjalan
PELITARIAU, Inhu - Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus di.
Ini 7 Kegiatan Maraton Ketahanan Pangan Polsek Rengat Barat Di Hari Libur
PELITARIAU, Inhu – Meski dalam suasana hari libur nasional untuk peringatan Ha.
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Polsek Rengat Barat Aktif Dampingi Program P2B
PELITARIAU, Inhu - Dalam rangka mendukung Program Asta Cita Presiden Republik In.









