Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
Dibaca : 1085 Kali
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Dibaca : 2733 Kali
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Dibaca : 5284 Kali
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dibaca : 2425 Kali
Aksi 212 Kaitanya Dengan Wirosableng
Pemeran sinetron laga Wiro Sableng, Ken ken. sumber foto Torto
PELITARIAU, Cianjur - Pelbagai pemberitaan aksi demonstrasi 212 membuat Wiro Sableng dengan sendirinya mencuat. Karakter pendekar rekaan Bastian Tito itu memang terkenal dengan angka 212. Julukannya: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.
Bastian Tito sudah wafat. Pemeran Wiro Sableng versi sinetron, Ken Ken, masi ada. Tapi Ken Ken tidak lagi beredar di layar kaca. Seakan menapaktilasi cerita Wiro Sableng yang memang digembleng di Gunung Gede, ia kini menetap di kaki Gunung Gede, di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur.
Untuk mencapai rumahnya, kami harus melewati jalanan berbatu dan menanjak. Akibat hujan di pagi hari, tanah merah menjadi licin dan becek dan mobil yang kami tumpangi kepayahan. Mobil pun kami parkir di bawah.
Seperti penelusuran Tirto, setelah berjalan 100 meter lebih, terlihat sebuah rumah panggung yang di sana sini terlihat lapuk kayunya. Dari dalam rumah, seorang pria tinggi besar memanggil. Meski pintu depan terbuka, ia meminta kami memutar lewat pintu belakang. Teras depan rumah itu memang terlihat keropos.
“Selamat datang di padepokan saya,” kata si empunya rumah.
Rumah Ken Ken bukanlah padepokan silat atau padepokan supranatural. Sejak delapan bulan lalu, ia mengambil alih bangunan lapuk ini beserta lahan tidur seluas hampir 6 hektar di sekitarnya. Ken Ken kembali ke Gunung Gede bukan sebagai pendekar, namun sebagai petani yang bercocok-tanam aneka sayuran. **prc.
Bastian Tito sudah wafat. Pemeran Wiro Sableng versi sinetron, Ken Ken, masi ada. Tapi Ken Ken tidak lagi beredar di layar kaca. Seakan menapaktilasi cerita Wiro Sableng yang memang digembleng di Gunung Gede, ia kini menetap di kaki Gunung Gede, di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur.
Untuk mencapai rumahnya, kami harus melewati jalanan berbatu dan menanjak. Akibat hujan di pagi hari, tanah merah menjadi licin dan becek dan mobil yang kami tumpangi kepayahan. Mobil pun kami parkir di bawah.
Seperti penelusuran Tirto, setelah berjalan 100 meter lebih, terlihat sebuah rumah panggung yang di sana sini terlihat lapuk kayunya. Dari dalam rumah, seorang pria tinggi besar memanggil. Meski pintu depan terbuka, ia meminta kami memutar lewat pintu belakang. Teras depan rumah itu memang terlihat keropos.
“Selamat datang di padepokan saya,” kata si empunya rumah.
Rumah Ken Ken bukanlah padepokan silat atau padepokan supranatural. Sejak delapan bulan lalu, ia mengambil alih bangunan lapuk ini beserta lahan tidur seluas hampir 6 hektar di sekitarnya. Ken Ken kembali ke Gunung Gede bukan sebagai pendekar, namun sebagai petani yang bercocok-tanam aneka sayuran. **prc.
BERITA LAINNYA +INDEKS
Komunitas Harmoni Kasih Nikmati Wisata Budaya Melayu di Istana Asserayah dan Kota Siak Sri Indrapura
PELITARIAU, Siak - Komunitas sosial Harmoni Kasih (HK) menggelar kegiatan wisata.
13 Tahun Berjalan, Pemerintah Tetapkan Hari Puisi Indonesia
PELITARIAU , Jakarta – Pemerintah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Har.
Ketum JMSI Teguh Santosa Kunjungi Rumah Adat Bagas Godang di Madina
PELITARIAU, Sumut - Ketua Umum Jaringan Media Siber.
Wapres Ikut Viralkan Arkhan, Bupati Kuansing Dorong Semaraknya Pacu Jalur
PELITARIAU, Pekanbaru - Tarian khas Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, yang.
Bupati Inhu dan Anggota DPRD Riau Terima Buku "Reunifikasi Korea" Karya DR Teguh Santosa
PELITARIAU, Riau — Bupati Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, Ade Agus Hartanto, bersa.
Utamakan Kebersihan Lokasi dan Keamanan Pengunjung Danau Raja
PELITARIAU, Inhu - Pihak pengelola berupaya meningk.








