Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Ternyata Ada Empat Pembela LGBT
PELITARIAU, Jakarta- Polemik fenomena lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) terus menjadi pro dan kontra di publik. Umumnya masyarakat menolak LGBT, tapi komunitas LGBT ini diharapkan tidak mengalami diskriminasi.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyebutkan ada empat kelompok yang menjadi pembela atau memberikan ruang bagi kelompok LGBT.
"Pertama yang tulus demi HAM (hak asasi manusia) tapi sepihak. Kedua yang genit mencari panggung politik, ketiga yang mencari bayaran dan keempat LGBT sendiri," kata Mahfud di akun Twitter @mohmahfudmd, Minggu 21 Februari 2016 sebagaimana dikutip sindnews.com.
Sebelumnya, LGBT di Indonesia bukan polemik baru yang muncul di Indonesia. Keberadaan LGBT di Indonesia mulai terasa sejak 1973. Kala itu kemunculan mereka berbarengan dengan film berjudul Akulah Vivian yang bercerita tentang kehidupan seorang transgender.
"Lalu diulangi oleh artis bernama Dedi Yuliardi Ashadi alias Dorce yang melakukan penggantian alat kelamin," ujar Alumni Kriminologi Universitas Indonesia (UI), Maman Suherman dalam acara Polemik Sindo Trijaya bertajuk LGBT, Beda Tapi Nyata, Jakarta, Sabtu 20 Februari.
Menurutnya, keberadaan kaum LGBT memang tidak sepenuhnya membuka diri. Mereka yang berprofesi sebagai publik figur. Contohnya, kata pria yang akrab disapa Kang Maman ini justru kerap menutup penyimpaangan seksualnya dengan berperilaku seperti orang kebanyakan.
"Mereka menikah, agar dianggap normal. Padahal orientasi seksual mereka bukan kepada lawan jenis," jelasnya.
Pada kesempatan itu dia menegaskan sikap pribadinya tidak setuju dengan perilaku seksual menyimpang yang dilakukan kaum LGBT. Namun, dia mengakui keberadaan kaum LGBT adalah fakta sosial.
"Bahwa mereka ada dan mereka punya hak seperti kita. Tapi kalau menyetujui saya tidak, karena tidak boleh ada hubungan sesama jenis," tegasnya.**
Komunitas Harmoni Kasih Nikmati Wisata Budaya Melayu di Istana Asserayah dan Kota Siak Sri Indrapura
PELITARIAU, Siak - Komunitas sosial Harmoni Kasih (HK) menggelar kegiatan wisata.
13 Tahun Berjalan, Pemerintah Tetapkan Hari Puisi Indonesia
PELITARIAU , Jakarta – Pemerintah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Har.
Ketum JMSI Teguh Santosa Kunjungi Rumah Adat Bagas Godang di Madina
PELITARIAU, Sumut - Ketua Umum Jaringan Media Siber.
Wapres Ikut Viralkan Arkhan, Bupati Kuansing Dorong Semaraknya Pacu Jalur
PELITARIAU, Pekanbaru - Tarian khas Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, yang.
Bupati Inhu dan Anggota DPRD Riau Terima Buku "Reunifikasi Korea" Karya DR Teguh Santosa
PELITARIAU, Riau — Bupati Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, Ade Agus Hartanto, bersa.
Utamakan Kebersihan Lokasi dan Keamanan Pengunjung Danau Raja
PELITARIAU, Inhu - Pihak pengelola berupaya meningk.








