• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Sindikat
  • Politik
  • Riau Raya
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Kepulauan Meranti
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Siak
    • Pekanbaru
  • Legislator
    • DPRD Pelalawan
    • DPRD Kuantan Singingi
    • DPRD Rokan Hilir
    • DPRD Rokan Hulu
    • DPRD Bengkalis
    • DPRD Dumai
    • DPRD Kepulauan Meranti
    • DPRD Indragiri Hilir
    • DPRD Indragiri Hulu
    • DPRD Kabupaten Kampar
    • DPRD Kabupaten Siak
    • DPRD Pekanbaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • More
    • Sastra & Budaya
    • Nasional
    • Tausiah
    • Sosialita
    • Tokoh
    • Kopi Paet
    • Pelitariau TV
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
Dibaca : 1085 Kali
Dheni Kurnia Kembali Pimpin JMSI Riau, Perkuat Media Siber Untuk Jurnalime Berkualitas
Dibaca : 2364 Kali
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Dibaca : 2732 Kali
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Dibaca : 5283 Kali
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dibaca : 2424 Kali

  • Home
  • Sastra & Budaya

Janji Christine Hakim: Cuplikan Kisah Human Interest (26)

Redaktur

Kamis, 28 April 2022 15:53:41 WIB
Cetak
Janji Christine Hakim: Cuplikan Kisah Human Interest (26)
Chirstine Hakim, Peraih sembilan Piala Citra

PELITARIAU - SIAPA tidak kenal “legenda hidup” Chirstine Hakim? Peraih sembilan Piala Citra ini merupakan artis dengan getar kharisma tinggi, dan dedikasi besar terhadap profesinya. Tak heran dia dikenal dan dihormati tak hanya di dalam negeri, melainkan juga meluas ke dunia internasional. 

Saya mulai melihat  perempuan bernama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim yang kelahirannya tepat pada hari natal tanggal 25 Desember di Kuala Tungkal, Jambi, ini pertama manakala dia datang ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya waktu itu masih muda belia dan berlatih di teater Bengkel Belia ARH sekaligus menjadi penyiar  stasion Radio ARH.

Sedangkan Cheistine sudah ngetop. Saat itu stasion radio ARH berada  di komplek TIM  paling depan, dekat pintu masuk. Dengan  begitu, kami dapat melihat  yang datang dan pulang dari TIM. Kala itu saya melihat Christine Hakim datang ke TIM , itupun cuma dari kejauhan saja, dari studio ARH.

Pertemuan langsung saya dengan  Christine terjadi di atas pesawat GIA Jakarta Medan. Maskapai nasional tersebut waktu itu membawa rombongan artis dan wartawan  untuk menghadiri acara Festival Film Indonesia (FFI) di Medan. Ketika penyelenggaran FFI l, setiap tahun masih berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. 

Begitu saya melihat orang yang duduk di sebelah Christine sedang jalan, tanpa izinnya, saya langsung menghampiri  Christine, dan duduk di sebelah. Sebagai reporter muda yang kala itu kebetulan menjadi managing editor di majalah berita mingguan FOKUS, saya memakai kesempatan yang ada untuk mewawancarainya. Saat itu saya  tidak bertanya kepada soal tetek bengkek personalnya, melainkan langsung masuk ke dalam soal-soal subtansial dan koseptual. Dalam wawancara itu, saya tidak membawa catatan dan mengingatkan langsung dalam otak.

Setiap jawaban Christine, saya uji lagi dengan pertanyaan lain, sehingga wawancara akhirnya lebih menyerupai sebuah dialog. Saya lihat waktu itu Christine sendiri cukup terkejut dengan cara dan subtansi wawancara dengan saya. Hasil wawancara itu dan kemenangannya kembali di FFI Medan kemudian menjadi laporan utama majalah FOKUS. Foto Christine menjadi covernya.

Boleh jadi waktu itu Christine tidak terbiasa dengan gaya wawancara wartawan seperti itu, yang tak mendelan bulat-bulat pendapatnya, apalagi dilakukan oleh wartawan yang yang masih  muda yang belum pernah dikenalnya pula. Belakangan saya tahu, setelah wawancara itu, dia memang bertanya kepada beberapa wartawan lebih senior, siapa diri saya. Kok sudah “sok tahu,” tapi sekaligus juga memberikan pujian. 

Buat saya, perkenalan seperti itu berdampak bagus. Setidaknya Christine memulai kenal saya bukan sebagai wartawan kaleng-kaleng, melainkan wartawan yang “ada otaknya.” 

Di waktu-waktu berikutnya, sebelum menulis soal film yang dimainkan Christine, saya sering ikut terjun menyaksikan shooting filmnya. Berbeda dengan shooting film kiwari yang sudah memakai teknologi cangih, kala itu shooting masih berjalan lama dan manajerial shootingnya pun belum seefektif sekarang. Akibatnya, shooting sering sampai larut malam.  Dampaknya,  saya pun terpaksa harus sering “nongkrong” menunggunya dan menyaksikan pengambilan adegan sampai tengah malam. Itu pun kesempatan berdialog demgan Christine cuma minim, lantaran dia konsentrasi shooting. 

Waktu itu saya sering ditemani sobat saya, reporter Ipik Tanayo. Kami pergi ke lokasi, jika  tidak naik motor saya, naik mobilnya Suzuki Jimmy (sudah dijual) milik Ipik. Sementara dalam karier kewartawanan saya sudah  berotasi dari reporter menjadi redaktur, lalu redaktur pelaksana, wakil Pemred, sampai Pemred dan Pemimpin Umum, bahkan pemilik, sampai kini pun sobat Ipik tetap memilih sebagai reporter. Jadi masih turun ke lapangan. 

Waktu itu saya tentu banyak menulis ikwal Christine. Saya, misalnya, menulis sebuah telaah film, tapi khusus ditinjau hanya dari sudut akting Christine.

Saya, sebenarnya,  berkeinginan untuk membuat biografi Christine Hakim, maka sejak sudah mengumpulkan kliping (zaman dahulu belum digital) semua terkait Christine, sejak dari awal keterlibatannya di dunia film dan kebudayaan. Oleh sebab itu, saya tahu  waktu remaja dia pernah loncat pagar sekolah dan sebagainya. Cuma lantaran berbagai faktor, keinginan tersebut  sampai sekarang belum terwujud.

Seiring waktu relasi antara wartawan dan narasumber, lama-lama berubah menjadi relasi perkawanan, bahkan persahabatan. Tak hanya saya pribadi, tapi isteri saya, juga saya ajak berkawan baik dengan  Christine. Terkadang mereka malah punya aktivitas tersendiri tanpa kehadiran saya. Umpamanya pergi ke Bali bareng dan lain-lainnya. Tentu saya membedakan mana informasi untuk disiarkan dan mana yang hanya sebatas di lingkungan internal kami saja.

Sekitar satu setengah tahun silam, Christine berjuang untuk sebuah kasus perlindungan hak kekayaan intelektual (HkI). Dia meminta saya untuk membantunya dari aspek legal. Dia berjanji mengupayakan agar  sebagai advokat saya bakal tetap menerima bagian honorarium. 

“Emang biasanya loe dibayar berapa sih? “ katanya.“

Wah, loe kan tahu, kalo normal honor  gue tinggi. Gak usah dibayarlah. Gue bantu lol. Gampang soal ini,” jawab saya.

“Ah, jangan gitu dong. Entar ada deh gue kasih. Tapi loe jangan mahal-mahal dong ya,” tandasnya. 

Saya cuma senyam senyum saja. “Terserah _loe aja deh!”

“Yang penting gue nanti mau selesaikan dulu ke pihak-pihak yang lebih membutuhkan dan berhak,” tambahnya.  

Dalam menangani case ini kami berkordinasi dengan intens. Seperti biasa, selain bekerja dengan nalar, Christine juga bekerja dengan instink  atau nalurinya yang kuat.  Keputusan-keputusan yang secara logika sudah kuat, dapat berubah  lantaran nalurinya. Dan hebatnya, intink dia, pada kasus ini, selalu benar.

Seusai kasus itu, saya sebenarnya sudah melupakan soal honorarium. Sejak awal saya memang tak mengharapkan adanya honor.  Saya full ikhlas membantunya, apalagi saya faham benar, langkah itu bukan cuma buat kepentingan Christine pribadi, namun memyangkut pula adannya kepentingan perlindungan HKI yang lebih luas, terutama terkait banyak pihak dalam perfilman nasional.

Dalam keadaan seperti itu, eh, dia malah kirim WA ke saya. “Broer nomer rekening loe dong”

“Untuk ‘rakyat banyak’ yang membutuhkan udah dibagi belum,” tanya saya, yang sebenarnya sebagai upaya mengelak memberi nomer rekening.

“Udah. Udah beres,” tuturnya lagi.

Kendati begitu, saya   masih segan memberikan nomer rekening saya. Sejujurnya saya tak mengharapkan honor atau uang apapun dalam proses itu. Christine seorang sahabat sangat dekat, sahabat lama lagi, bagaimana mungkin saya mau meminta honor.  Enggaklah ya. Maka saya tetap membiarkannya saja. Siapa tahu, saya mengharap, dia lupa.

Rupanya Christine tetap meminta nomer rekening saya. Semula saya bakal bergeming memberikannya. Saya akan abaikan saja. Kalau perlu saya mau bilang,”Ya sudah ambil aja honor saya buat perfilman nasional.” Belakangan pikiran ini saya ubah.

Saya melihat ada perpektif lain. Dariangke lain. Ini menyangkut pemenuhan komitmen. Ini soal penegakan integritas. Soal pembuktian karakter.

Tentu Christine  sebagai sahabat lama, faham benar siapa saya. Dia tahu sekali jumlah honor darinya  mungkin bukan sesuatu yang sangat berarti sekali buat saya. Tapi ada sebuah komitmen Christine di belakangnya.

Ada sebuah pemenuhan janji di balik itu. Christine sudah berjanji memberikan honor ke saya, berapapun itu nantinya. Dan dia tidak pernah melupakan janjinya. Dia ingin memenuhi janji itu. Dia ingin membayar komitmen itu.

Dari sudut pandang ini, saya menemukan Christine bagaikan burung merpati  yang tidak pernah ingkar janji. Dia berjanji dan berupaya maksimal memenuhi janjinya. Itulah karakter. 

Maka kemudian saya memberikan nomer rekening saya dengan senang hati, lantaran menghormati komitmennya. Menghargai karakter orang yang selalu ingat janjinya. Seorang yang punya karakter kuat terhadap komitmennya. Setelah memperoleh nomer rekening saya, dia segera melakukan transfer.

Disini pulalah saya melihat janji Christine Hakim kepada saya, tidak terlepas dari karakternya. Dari jiwanya yang berjanji untuk selalu menjaga dan meningkatkan perfilman nasional Indonesia.

Janjinya terhadap perfilman Indonesia merupakan sebuah komitmen dari dia. Aktingnya dalam film nasional bukan hanya sekedar penghayatan terhadap sebuah peran yang diberikan kepadanya dalam sebuah film, tapi merupakan sebuah pertunjukan pelaksanaa komitmen untuk ikut memajukan perfilman nasional. Sebuah bukti pemenuhan janji untuk melibatkan dan membaktikan diri langsung terhadap kemajuan perfilman nasional Indonesia. Hai Christine, terima kasih. Tabik. **PRC1



 Editor : Redaksi

[Ikuti PelitaRiau.Com


pelitariaumedia

BERITA LAINNYA +INDEKS

Sastra & Budaya

Komunitas Harmoni Kasih Nikmati Wisata Budaya Melayu di Istana Asserayah dan Kota Siak Sri Indrapura

Sabtu, 09 Mei 2026 - 12:09:42 WIB

PELITARIAU, Siak - Komunitas sosial Harmoni Kasih (HK) menggelar kegiatan wisata.

Sastra & Budaya

13 Tahun Berjalan, Pemerintah Tetapkan Hari Puisi Indonesia

Ahad, 27 Juli 2025 - 17:32:43 WIB

PELITARIAU , Jakarta  – Pemerintah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Har.

Sastra & Budaya

Ketum JMSI Teguh Santosa Kunjungi Rumah Adat Bagas Godang di Madina

Sabtu, 26 Juli 2025 - 18:57:20 WIB

PELITARIAU, Sumut - Ketua Umum Jaringan Media Siber.

Sastra & Budaya

Wapres Ikut Viralkan Arkhan, Bupati Kuansing Dorong Semaraknya Pacu Jalur

Senin, 07 Juli 2025 - 15:33:45 WIB

PELITARIAU, Pekanbaru - Tarian khas Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, yang.

Sastra & Budaya

Bupati Inhu dan Anggota DPRD Riau Terima Buku "Reunifikasi Korea" Karya DR Teguh Santosa

Selasa, 01 Juli 2025 - 22:20:40 WIB

PELITARIAU, Riau — Bupati Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, Ade Agus Hartanto, bersa.

Sastra & Budaya

Utamakan Kebersihan Lokasi dan Keamanan Pengunjung Danau Raja

Selasa, 01 April 2025 - 17:38:06 WIB

PELITARIAU, Inhu - Pihak pengelola berupaya meningk.

Terkini

  • +INDEX
DPRD Kepulauan Meranti Buka Paripurna ke-5 Dan 3 Ranperda Usulan Pemda dan 4 Inisiatif Dewan Disampaikan
01 Juli 2026
Warga Suku Asli Nerlang Terima KTP-el dan Akta Perkawinan Lewat Layanan Jemput Bola
01 Juli 2026
Polres Kepulauan Meranti Peringati Hari Bhayangkara ke-80 Dengan Upacara Khidmat dan Penuh Makna
01 Juli 2026
Bupati Asmar Lantik 38 Pejabat di Pemkab Kepulauan Meranti, Tekankan Integritas dan Profesionalisme ASN
01 Juli 2026
Bupati Asmar Hadiri HUT Bhayangkara ke-80, Tegaskan Sinergi Polri dan Pemda Kunci Stabilitas Kepulauan Meranti
01 Juli 2026
Polresta Pekanbaru Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Komitmen Polri Presisi untuk Masyarakat dan Dukung Program Nasional
01 Juli 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara Sertijab Kabagops, Kapolsek Pulau Burung dan Kapolsek Kempas
01 Juli 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Komitmen 80 Tahun Mengabdi Polri Untuk Masyarakat
01 Juli 2026
Utamakan Pelayanan, Klinik Lapas Bersama Ka.KPLP Tangani Pengunjung Yang Alami Gangguan Kesehatan
01 Juli 2026
Presiden Prabowo Beri Nugraha Sakanti kepada Polda Riau, Kapolda: Penghargaan Ini Milik Seluruh Personel
01 Juli 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Bedah Rumah untuk Warakawuri Jadi Kado Istimewa Polres Meranti di Hari Bhayangkara ke-80
  • 2 Wabup Muzamil Instruksikan Seluruh Aparat Desa Dukung Percepatan Sensus Ekonomi 2026
  • 3 Bupati Asmar Teken Kerja Sama Program Desa Bebas Api, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Kepulauan Meranti
  • 4 Wakapolres Kepulauan Meranti Hadiri Penandatanganan MoU Desa Bebas Api PT RAPP, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla
  • 5 Meriahkan Hari Bhayangkara Ke - 80 Polres Meranti Gekar Olaraga Bersama Penuh Kebersamaan
  • 6 Bupati Asmar Hadiri Pembukaan MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau
  • 7 Bupati Asmar dan Wabup Muzamil Hadiri Pelepasan Pawai Ta'aruf MTQ ke-44 Provinsi Riau di Kuansing

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

PelitaRiau.Com ©2014 | All Right Reserved