• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Sindikat
  • Politik
  • Riau Raya
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Kepulauan Meranti
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Siak
    • Pekanbaru
  • Legislator
    • DPRD Pelalawan
    • DPRD Kuantan Singingi
    • DPRD Rokan Hilir
    • DPRD Rokan Hulu
    • DPRD Bengkalis
    • DPRD Dumai
    • DPRD Kepulauan Meranti
    • DPRD Indragiri Hilir
    • DPRD Indragiri Hulu
    • DPRD Kabupaten Kampar
    • DPRD Kabupaten Siak
    • DPRD Pekanbaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • More
    • Sastra & Budaya
    • Nasional
    • Tausiah
    • Sosialita
    • Tokoh
    • Kopi Paet
    • Pelitariau TV
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
Dibaca : 1085 Kali
Dheni Kurnia Kembali Pimpin JMSI Riau, Perkuat Media Siber Untuk Jurnalime Berkualitas
Dibaca : 2364 Kali
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Dibaca : 2732 Kali
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Dibaca : 5283 Kali
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dibaca : 2425 Kali

  • Home
  • Sastra & Budaya
  • Pekanbaru

Tentang Pengajaran Sastra dan Buku Bacaan

Bambang S

Rabu, 08 Juli 2020 17:20:59 WIB
Cetak
Tentang Pengajaran Sastra dan Buku Bacaan
ILUSTRASI BUKU-BUKU SASTRA. (BLOG AGUS NOOR)

PELITARIAU -  KETIKA menjadi pembicara untuk tema penulisan kreatif dalam acara Pelatihan Jurnalistik untuk Guru Bahasa Indonesia/Kepala Sekolah SMP se Riau di Pekanbaru, Kamis, 13 Oktober 2011, yang diadakan Balai Bahasa Riau, ada hal yang menarik yang sebenarnya bukan tema baru menjadi tema diskusi antara saya dengan guru-guru/kepala sekolah. Yang pertama adalah minimnya pelajaran sastra untuk siswa, dan yang kedua adalah kurangnya bahan bacaan (sastra) bagi siswa di sekolah-sekolah.

 

Sastra kita memang menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri, terutama di sekolah-sekolah yang semestinya menjadi tempat awal (dasar) bagi tumbuhnya kecintaan terhadap karya sastra, atau keinginan untuk menulis karya itu sendiri. Namun, memang, sejarah sastra kita tak mengakar dan tak berasal dari sekolah-sekolah. Sekolah tak mengajarkan secara spesifik bagaimana mengapresiasi karya sastra, dan juga bagaimana menciptakan karya sastra itu sendiri. Pelajaran sastra hanya menempel pada pelajaran bahasa Indonesia, dan porsinya juga amat kecil.

 

Saya ingat ketika masih duduk di bangku SMP dan SMA, pelajaran mengarang (sastra) nyaris tak diajarkan, dan pelajaran untuk mengapresiasi karya juga tak pernah ada. Apalagi bagaimana berseni peran (drama/teater) dan yang lainnya. Di tengah minimnya pelajaran sastra itu, karya sastra yang dibahas juga bukan karya yang dianggap penting oleh masyarakat, tetapi berdasarkan selera penulis buku pelajaran atau buku pegangan.

 

Misalnya, ada pembahasan karya sajak AD Donggo, tetapi sampai saya tamat SMA, tak pernah menemukan buku-buku AD Donggo baik di toko buku maupun di perpustakaan sekolah. Ini bukan membicarakan apakah seorang AD Donggo dan karyanya penting atau tidak, tetapi lebih pada persoalan standarisasi kurikulum yang akan diajarkan ke siswa.

 

Padahal, untuk pelajaran apresiasi, kuat atau tidaknya (mutu) sebuah karya menjadi penting karena ini akan menjadi dasar bagi siswa di kemudian hari untuk serius atau tidak memahami sebuah karya. Karya-karya klasik Indonesia angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, atau generasi terkini, tetap harus menjadi prioritas dalam pemahaman sejarah sastra dan apresiasinya. 

 

Siswa mestinya "diperkenalkan" dengan karya-karya klasik dan pengarangnya seperti Siti Nurbaya (Marah Rusli), Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati), Salah Asuhan (Abdul Muis), Azab dan Sengsara (Merari Siregar), Mencari Anak Perawan di Sarang Penyamun (Soeman Hs), Belenggu (Armyn Pane), hingga Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Kabah (HAMKA), karya-karya Pramudya Ananta Toer dan yang lainnya.

 

Pujangga-pujangga seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Budi Darma, Sapardi Djoko Damono,  Gunawan Mohammad, hingga para sastrawan terkini (sekadar menyebut nama) seperti Joko Pinurbo, Linda Christanty, Raudal Tanjung Banua, Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Marhalim Zaini, dan sebagainya juga harus diperkenalkan kepada mereka. Bukan hanya namanya, tetapi juga karyanya, juga apresiasi terhadap karya-karya mereka. Sayangnya, jumlah jam yang terbatas dan amat minim membuat banyak siswa sekarang yang tak memahami karya sastra.

 

Beberapa tahun lalu, dalam kesempatan dan acara yang hampir sama, saya pernah bertanya kepada guru, apakah karya-karya Sutardji Calzoum Bachri juga diajarkan di sekolah. Banyak guru yang bingung. Mereka bahkan ada yang tak mengenal nama Sutardji, termasuk tak tahu kalau Sutardji adalah salah satu penyair besar Indonesia kelahiran Riau. Ini menjadi ironi, karena banyak guru yang mestinya mengajarkan bahasa dan sastra, ternyata banyak yang tak memahami apa yang diajarkan.

 

Kondisi ini berkait dengan susahnya siswa mendapatkan bacaan sastra yang baik. Zulmida, guru asal SMP 1 Bengkalis mengeluhkan betapa anak didiknya tak mendapatkan bacaan sastra yang bisa menggugah apresiasi siswa. "Kami kekurangan bacaan sastra. Saya bahkan sering membeli buku murah ketika jalan ke Yogyakarta atau Jakarta untuk perpustakaan," katanya.

 

Apa yang dialami Zulmida, juga dialami guru di sekolah lain. Tidak hanya di Riau, tetapi hampir di semua daerah di seluruh Indonesia, terutama yang jauh dari kota. Produksi buku sastra yang pantas diajarkan di sekolah memang berbanding terbalik dengan produksi buku fiksi populer yang ringan dan menjadi sekadar bacaan hiburan. Jebloknya penjualan buku sastra memang membuat banyak penerbit yang tak tertarik, karena berpikir untung-rugi. 

 

Semestinya, di sinilah peran pemerintah semestinya muncul, yakni mencetak buku-buku sastra tersebut dan dijadikan bahan ajar kepada siswa. Namun, proyek pengadaan buku sastra juga banyak masalah dan korupsi. Buku-buku yang dalam proyek dilaporkan dicetak ribuan atau puluhan ribu, ternyata hanya dicetak ratusan eksemplar. Hanya menjadi bahan laporan saja. Sementara uang miliaran rupiah dinikmati para pemenang proyek pengadaan itu. Ini yang menjadi ironi.

 

Padahal, produksi buku sebenarnya tak semahal yang dibayangkan. Pengadaan buku dengan harga murah sebenarnya bisa dilakukan, karena produksi buku tak semahal dengan label harganya di toko buku. Buku-buku setebal 200 halaman yang dibandrol Rp40-50 ribu di toko buku, biaya produksinya secara massal (dicetak 2000-3000 eksemplar) hanya Rp4-6 ribu rupiah/buku (tahun 2010). Ongkos distribusi dan untung besar yang diambil oleh toko buku yang membuat harga buku mahal.

 

Sekali lagi, pemerintah mesti berperan dalam membantu bacaan sastra ini kepada siswa dengan proyek pengadaan buku yang benar-benar dan tak mengutamakan keuntungan besar bagi pemenang proyek itu.

 

Inilah problemnya. Pengajaran sastra tak maksimal, perpustakaan sekolah tak memiliki buku, sedang proyek pengadaan buku sastra, juga buku lain, secara umum sarat dengan mark-up dan korupsi. Harus ada jalan keluar yang baik. **prc4

 


sumber: riauglobe.com



[Ikuti PelitaRiau.Com


pelitariaumedia

BERITA LAINNYA +INDEKS

Sastra & Budaya

Komunitas Harmoni Kasih Nikmati Wisata Budaya Melayu di Istana Asserayah dan Kota Siak Sri Indrapura

Sabtu, 09 Mei 2026 - 12:09:42 WIB

PELITARIAU, Siak - Komunitas sosial Harmoni Kasih (HK) menggelar kegiatan wisata.

Sastra & Budaya

13 Tahun Berjalan, Pemerintah Tetapkan Hari Puisi Indonesia

Ahad, 27 Juli 2025 - 17:32:43 WIB

PELITARIAU , Jakarta  – Pemerintah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Har.

Sastra & Budaya

Ketum JMSI Teguh Santosa Kunjungi Rumah Adat Bagas Godang di Madina

Sabtu, 26 Juli 2025 - 18:57:20 WIB

PELITARIAU, Sumut - Ketua Umum Jaringan Media Siber.

Sastra & Budaya

Wapres Ikut Viralkan Arkhan, Bupati Kuansing Dorong Semaraknya Pacu Jalur

Senin, 07 Juli 2025 - 15:33:45 WIB

PELITARIAU, Pekanbaru - Tarian khas Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, yang.

Sastra & Budaya

Bupati Inhu dan Anggota DPRD Riau Terima Buku "Reunifikasi Korea" Karya DR Teguh Santosa

Selasa, 01 Juli 2025 - 22:20:40 WIB

PELITARIAU, Riau — Bupati Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, Ade Agus Hartanto, bersa.

Sastra & Budaya

Utamakan Kebersihan Lokasi dan Keamanan Pengunjung Danau Raja

Selasa, 01 April 2025 - 17:38:06 WIB

PELITARIAU, Inhu - Pihak pengelola berupaya meningk.

Terkini

  • +INDEX
Bupati Asmar Sampaikan Tiga Ranperda, DPRD Meranti Usulkan Empat Regulasi Strategis Untuk Perkuat Tata Kelola Daerah
01 Juli 2026
DPRD Kepulauan Meranti Buka Paripurna ke-5 Dan 3 Ranperda Usulan Pemda dan 4 Inisiatif Dewan Disampaikan
01 Juli 2026
Warga Suku Asli Nerlang Terima KTP-el dan Akta Perkawinan Lewat Layanan Jemput Bola
01 Juli 2026
Polres Kepulauan Meranti Peringati Hari Bhayangkara ke-80 Dengan Upacara Khidmat dan Penuh Makna
01 Juli 2026
Bupati Asmar Lantik 38 Pejabat di Pemkab Kepulauan Meranti, Tekankan Integritas dan Profesionalisme ASN
01 Juli 2026
Bupati Asmar Hadiri HUT Bhayangkara ke-80, Tegaskan Sinergi Polri dan Pemda Kunci Stabilitas Kepulauan Meranti
01 Juli 2026
Polresta Pekanbaru Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Komitmen Polri Presisi untuk Masyarakat dan Dukung Program Nasional
01 Juli 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara Sertijab Kabagops, Kapolsek Pulau Burung dan Kapolsek Kempas
01 Juli 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Komitmen 80 Tahun Mengabdi Polri Untuk Masyarakat
01 Juli 2026
Utamakan Pelayanan, Klinik Lapas Bersama Ka.KPLP Tangani Pengunjung Yang Alami Gangguan Kesehatan
01 Juli 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Bedah Rumah untuk Warakawuri Jadi Kado Istimewa Polres Meranti di Hari Bhayangkara ke-80
  • 2 Wabup Muzamil Instruksikan Seluruh Aparat Desa Dukung Percepatan Sensus Ekonomi 2026
  • 3 Bupati Asmar Teken Kerja Sama Program Desa Bebas Api, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Kepulauan Meranti
  • 4 Wakapolres Kepulauan Meranti Hadiri Penandatanganan MoU Desa Bebas Api PT RAPP, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla
  • 5 Meriahkan Hari Bhayangkara Ke - 80 Polres Meranti Gekar Olaraga Bersama Penuh Kebersamaan
  • 6 Bupati Asmar Hadiri Pembukaan MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau
  • 7 Bupati Asmar dan Wabup Muzamil Hadiri Pelepasan Pawai Ta'aruf MTQ ke-44 Provinsi Riau di Kuansing

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

PelitaRiau.Com ©2014 | All Right Reserved