Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Nelayan Meranti Keluhkan Limbah PT SRB, Diduga Cemari Laut
PELITARIAU, Selatpanjang - Sejumlah Nelayan di Kecamatan Rangsang Barat mengeluhkan pembuangan limbah cair dari pabrik PT Sara Rasa Biomass (SRB). Diduga limbah tersebut di buang ke laut yang menimbulkan pencemaran
Akibatnya menurut nelayan setempat berdampak kepada minimnya tangkapan ikan. Menyikapi itu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kepulauan Meranti akan segera menurunkan tim ke lapangan.
Kepala BLH Kabupaten Kepulauan Meranti, Drs Irmansyah MSi, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (31/10) mengatakan, sudah mendapatkan informasi tentang keluhan nelayan itu, namun belum mendapatkan laporan data tentang pencemaran limbah cair dari pabrik perusahaan dimaksud.
"Sejauh ini kita belum mendapatkan laporan data lengkapnya. Kita mohon dukungan informasi dari para nelayan, wartawan maupun LSM terkait pembuangan limbah yang dilakukan perusahaan itu. Sesegera mungkin akan kami turunkan tim ke lapangan," ujarnya.
Menurutnya, sampel limbah dari perusahaan yang disebut-sebut telah mencemari air laut di Selat Air Hitam itu perlu diuji terlebih dahulu, sehingga nantinya dapat diketahui kadar limbah apakah dapat terurai atau tidak setelah dibuang ke laut.
"Jika nantinya benar ditemukan adanya limbah berbahaya dan mengancam biota air, seperti salah satunya mengakibatkan punahnya ikan sehingga merugikan nelayan, maka akan ada tindakan tegas yang diberlakukan terhadap perusahaan sebagaimana peraturan yang berlaku," tegasnya.
Sebelumnya, Ardian, Kepala Dusun III Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat mengatakan, sewaktu perusahaan ini belum beroperasi di desa itu, nelayan sekitar bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan senilai Rp200 ribu. Tapi sekarang, untuk mencari Rp30 ribu saja sudah sangat sulit.
"Tidak ada lagi nelayan yang turun melaut di sekitar perusahaan. Kalau pun turun mencari ikan, nelayan pergi ke laut yang posisinya jauh dari lokasi penangkapan di sekitar perusahaan, sehingga biaya yang harus dikeluarkan nelayan jadi bertambah," kata Ardian.
Saat ini, lanjutnya, sebagian besar nelayan di Desa Bokor mulai beralih profesi dengan mencari sumber mata pencarian lain. Kebanyakan di antara para nelayan di desa ini memilih menjadi Tenaga Kerja di Malaysia atau menjadi petani. (kor. nto)
Editorial: Rio Ahmad
Reskrim Polsek Pangkalan Kerinci Ungkap Curat Mobil di RSUD Selasih, Pelaku dan Barang Bukti Diamankan
PELITARIAU, Pelalawan - Unit Reskrim Polsek Pangkalan Kerinci Kepolisian Resor (.
Satresnarkoba Polres Inhil Ungkap Peredaran 280,7 Gram Sabu, Seorang Pengedar Diamankan
PELITARIAU, Indragiri Hilir – Satuan Reserse Narkoba Polres Indragiri Hilir ke.
Polres Pelalawan Gelar Konferensi Press Kasus Pembunuhan Disertai Kekerasan di Desa Kiyap Jaya
PELITARIAU, Pelalawan – Polres Pelalawan menggelar konferensi pers terkait pen.
Satresnarkoba Kampar Bongkar Jaringan Sabu Pasangan Kekasih di Tapung
PELITARIAU, Kampar – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kampar.
Tindak Tegas Pelaku Penganiayaan, Kasat Reskrim Polres Inhu Instruksikan Pengejaran Hingga Ke Batam
PELITARIAU, Batam – Komitmen penegakan hukum ditunjukkan Kasat Reskrim Polres .
Kurang dari 24 Jam Maling Bobol Rumah di Rohul Diciduk Polisi
PELITARIAU, ROKAN HULU – Unit Reskrim Polsek Ujung Batu kembali menunjukkan ke.









