• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Sindikat
  • Politik
  • Riau Raya
    • Pelalawan
    • Kuantan Singingi
    • Rokan Hilir
    • Rokan Hulu
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Kepulauan Meranti
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Siak
    • Pekanbaru
  • Legislator
    • DPRD Pelalawan
    • DPRD Kuantan Singingi
    • DPRD Rokan Hilir
    • DPRD Rokan Hulu
    • DPRD Bengkalis
    • DPRD Dumai
    • DPRD Kepulauan Meranti
    • DPRD Indragiri Hilir
    • DPRD Indragiri Hulu
    • DPRD Kabupaten Kampar
    • DPRD Kabupaten Siak
    • DPRD Pekanbaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • More
    • Sastra & Budaya
    • Nasional
    • Tausiah
    • Sosialita
    • Tokoh
    • Kopi Paet
    • Pelitariau TV
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar

Pilihan

  • +INDEX
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
Dibaca : 1085 Kali
Dheni Kurnia Kembali Pimpin JMSI Riau, Perkuat Media Siber Untuk Jurnalime Berkualitas
Dibaca : 2363 Kali
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Dibaca : 2732 Kali
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Dibaca : 5283 Kali
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dibaca : 2424 Kali

  • Home
  • Sastra & Budaya
  • Pekanbaru

Seulas tentang Migran Terakhir

M Lani

Rabu, 28 September 2022 18:25:27 WIB
Cetak
Seulas tentang  Migran Terakhir
Naskah pendek ini diberi judul, "Migran Terakhir

PELITARIAU, Pekanbaru - Naskah pendek ini diberi judul, "Migran Terakhir". Teks ini juga merupakan riset pribadi atas pengalaman penulis atau sutradara sepanjang perjalanan waktu yang dilalui. Rasa yang campuraduk antara cinta dan benci, senang dan kecewa, tawa dan marah, maju dan mundur, terbang dan terjerembab, bahagia dan hamuk berselikau di hati dan kepala. 

Rasa-rasa itu tak kunjung mereda. Bahkan semakin membuncah dan mulai membusuk, menuju fermentasi menjadi bangkai. Ah... Manusia memang bukan mahluk pertama yang meracuni bumi dengan syahwat celakanya. Namun manusialah yang biografi kejahatannya super lengkap hingga hari ini. 

Artinya, sebagai "Penumpang Terakhir" di muka bumi ini, manusia tak henti-henti mencabik-cabik tubuh "Ibu"-nya (bumi) dengan beringas. Tak berhatiperut, bahkan cendrung sadis. Bahkan banyak orang bijak meyakini, sejak 300 tahun terakhir, keberingasan manusia mengeksploitasi alam kian menjadi-jadi. Manusia menggila secara massal hanya untuk satu keinginan belaka yakni kesenangan semu. 

Seolah-olah, untuk mereka saja semesta ini diadakan. Kepada mereka pula bumi ini dititipkan untuk segera dibumihanguskan. Nafsu-nafsi tak henti-hentinya dipertontonkan. Bahkan menjadi biasa dan lumrah ketika kebejatan terjadi dimana-mana. Barangkali, kekhawatiran penghuni langit saat Tuhan hendak menciptakan manusia, terbukti dan nyata adanya. Untuk apa mereka Kau ciptakan, mereka hanya akan membuat kekacauan dan saling menumpahkan darah satu sama lainnya. 

Kata "Migran Terakhir" atau "Last Migrant" ini penulis kutip dari esai seorang budayawan Riau, Prof Yusmar Yusuf yang begitu rajin serta bergairah menuangkan pikiran-pikirannya kepada khalayak. Ia tidak ambil pusing, apakah pikirannya itu dapat diterima dan diserap pembaca. Baginya, kecerdasan sudah menjadi kodrat manusia jika ia (manusia) itu menyadari untuk apa mereka diciptakan dan menjadi pemimpin di muka bumi ini. 

Konsep Garapan

Untuk membumikan teks "Migran Terakhir" penulis atau sutradara mengutip salah satu kekayaan budaya Riau. Yakni "Tari Cegak" asal Kampung Ulak Patian yang dihuni suku anak dalam, Suku Bonai. "Cegak" atau "Sembuh" tentu saja dialamatkan bagi orang yang sakit. Tarian ini hanya ada di Suku Bonai yang menetap di Ulak Patian. 

Tarian ini tentu saja tidak terlepas dari mitos-mitos yang populer ditengah-tengah masyarakat kampung Ulak Patian. Tarian ini mengisahkan lima (5) orang pemuda yang terobsesi untuk memiliki kesaktian. Mereka begitu tekun dalam menuntut ilmu, dalam hal ini tentu saja "ilmu kebatinan". Setelah sekian lama belajar dan menyerap semua pesan yang diamanatkan, mereka pun ingin kembali ke kampung halamannya. 

Kelima orang itu ditentang penguasa saat itu. Mereka dikejar-kejar dan bersembunyi di kebun pisang. Merekapun melakukan penyamaran dengan memakai daun pisang kering atau kresek. Penyamaran berhasil, namun secara ajaib mereka tidak bisa kembali lagi ke posisi normal. 

Karena tidak menemukan solusi, kelima pemuda itu berjalan hingga tiba di kampungnya kembali. Saat mereka tiba, orang kampung sedang berpesta dengan menampilkan musik Gondang Barogong. Mereka ikut bergabung dan menari dan saat musik berhenti, daun-daun pisang (kresek) lepas dengan sendirinya dari tubuh mereka. 

Ilmu, apa pun itu tentu saja bersifat objektif. Hanya orang berilmulah yang mampu membuka cakrawalanya dalam bersikap dan bertindak. Ilmu itu pula yang memposisikan pemiliknya di jalur mana. Jika diarahkan pada kebaikan maka baiklah hasilnya. Jika diarahkan untuk keburukan, maka sengsaralah jiwa dan badan. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. 

Dalam garapan "Migran Terakhir", orang-orang berilmu digambarkan dengan sosok manusia memakai kostum daun pisang kering. Mereka seperti terjun ke laut lepas dan mencoba untuk meminum airnya. Semakin diminum, maka semakin dahagalah ia. Orang-orang berilmu terlihat bagai manusia yang tersesat dan mengalami pengalaman batin yang luar biasa. 

Para aktor mengucai (menggerutu/ merepet/ bersungut-sungut) tentang tabiat manusia di muka bumi yang tak ada puasnya merusak dan saling bertikai satu sama lain. Bahkan aktivitas pembumihangusan semesta tak lagi terhindarkan. 

Dalam karya ini, sutradara mencoba untuk mengawinkan tiga unsur dialog antaralain; dialog tubuh, dialog bunyi (vocal atau musik) dan dialog verbal. Perbancuhan ketiga unsur dialog itu menjadi satu kesatuan dan berkaitkelindan untuk dipahami sebagai teks. 

Sinopsis

Kita tidak mengenal apa dan siapa mahluk yang dikatakan penghuni langit saat Tuhan hendak menciptakan manusia. Bahkan penciptaannya melahirkan silang sengketa yang pertama pula di langit. Semaksamun sengketa itu bergulir ke bumi dan berlangsung jutaan tahun lamanya. Manusia yang dikuasai syahwat dan nafsu-nafsilah yang memuncaki kebejatan di muka bumi. 

Satu sama lain memainkan peran sebagai pemenang. Dan kekalahan hanya serupa kutukan yang harus segera dilupakan. Dikubur sedalam-dalamnya.

Migran Terakhir
(karya Fedli Azis)
Produksi Lembaga Teater Selembayung 2022.**Prc6 



Sumber : Prc6 /  Editor : Lani

[Ikuti PelitaRiau.Com


pelitariaumedia

BERITA LAINNYA +INDEKS

Sastra & Budaya

Komunitas Harmoni Kasih Nikmati Wisata Budaya Melayu di Istana Asserayah dan Kota Siak Sri Indrapura

Sabtu, 09 Mei 2026 - 12:09:42 WIB

PELITARIAU, Siak - Komunitas sosial Harmoni Kasih (HK) menggelar kegiatan wisata.

Sastra & Budaya

13 Tahun Berjalan, Pemerintah Tetapkan Hari Puisi Indonesia

Ahad, 27 Juli 2025 - 17:32:43 WIB

PELITARIAU , Jakarta  – Pemerintah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Har.

Sastra & Budaya

Ketum JMSI Teguh Santosa Kunjungi Rumah Adat Bagas Godang di Madina

Sabtu, 26 Juli 2025 - 18:57:20 WIB

PELITARIAU, Sumut - Ketua Umum Jaringan Media Siber.

Sastra & Budaya

Wapres Ikut Viralkan Arkhan, Bupati Kuansing Dorong Semaraknya Pacu Jalur

Senin, 07 Juli 2025 - 15:33:45 WIB

PELITARIAU, Pekanbaru - Tarian khas Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, yang.

Sastra & Budaya

Bupati Inhu dan Anggota DPRD Riau Terima Buku "Reunifikasi Korea" Karya DR Teguh Santosa

Selasa, 01 Juli 2025 - 22:20:40 WIB

PELITARIAU, Riau — Bupati Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, Ade Agus Hartanto, bersa.

Sastra & Budaya

Utamakan Kebersihan Lokasi dan Keamanan Pengunjung Danau Raja

Selasa, 01 April 2025 - 17:38:06 WIB

PELITARIAU, Inhu - Pihak pengelola berupaya meningk.

Terkini

  • +INDEX
Warga Suku Asli Nerlang Terima KTP-el dan Akta Perkawinan Lewat Layanan Jemput Bola
01 Juli 2026
Polres Kepulauan Meranti Peringati Hari Bhayangkara ke-80 Dengan Upacara Khidmat dan Penuh Makna
01 Juli 2026
Bupati Asmar Lantik 38 Pejabat di Pemkab Kepulauan Meranti, Tekankan Integritas dan Profesionalisme ASN
01 Juli 2026
Bupati Asmar Hadiri HUT Bhayangkara ke-80, Tegaskan Sinergi Polri dan Pemda Kunci Stabilitas Kepulauan Meranti
01 Juli 2026
Polresta Pekanbaru Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Komitmen Polri Presisi untuk Masyarakat dan Dukung Program Nasional
01 Juli 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara Sertijab Kabagops, Kapolsek Pulau Burung dan Kapolsek Kempas
01 Juli 2026
Polres Indragiri Hilir Gelar Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Komitmen 80 Tahun Mengabdi Polri Untuk Masyarakat
01 Juli 2026
Utamakan Pelayanan, Klinik Lapas Bersama Ka.KPLP Tangani Pengunjung Yang Alami Gangguan Kesehatan
01 Juli 2026
Presiden Prabowo Beri Nugraha Sakanti kepada Polda Riau, Kapolda: Penghargaan Ini Milik Seluruh Personel
01 Juli 2026
Bedah Rumah untuk Warakawuri Jadi Kado Istimewa Polres Meranti di Hari Bhayangkara ke-80
30 Juni 2026

Terpopuler

  • +INDEX
  • 1 Bedah Rumah untuk Warakawuri Jadi Kado Istimewa Polres Meranti di Hari Bhayangkara ke-80
  • 2 Wabup Muzamil Instruksikan Seluruh Aparat Desa Dukung Percepatan Sensus Ekonomi 2026
  • 3 Bupati Asmar Teken Kerja Sama Program Desa Bebas Api, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla di Kepulauan Meranti
  • 4 Wakapolres Kepulauan Meranti Hadiri Penandatanganan MoU Desa Bebas Api PT RAPP, Perkuat Sinergi Cegah Karhutla
  • 5 Meriahkan Hari Bhayangkara Ke - 80 Polres Meranti Gekar Olaraga Bersama Penuh Kebersamaan
  • 6 Bupati Asmar Hadiri Pembukaan MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau
  • 7 Bupati Asmar dan Wabup Muzamil Hadiri Pelepasan Pawai Ta'aruf MTQ ke-44 Provinsi Riau di Kuansing

Ikuti Kami

Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

PelitaRiau.Com ©2014 | All Right Reserved