Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
BPH Migas: Tak Jual BBM Bersubsidi, SPBU Tak Akan Rugi
PELITARIAU - Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memutuskan mengambil beberapa langkah dan kebijakan pembatasan dan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi. Mulai dari pencabutan subsidi solar di SPBU yang ada di Jakarta Pusat, pembatasan waktu penjualan BBM bersubsidi di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera, hingga penghentian penjualan BBM bersubsidi di jalan tol.
Rata-rata, semua kebijakan itu akan dilakukan bulan ini. Sejauh ini, baru pencabutan subsidi solar di SPBU yang ada di Jakarta Pusat yang sudah diimplementasikan. Kebijakan itu pun melahirkan curhatan dari pengelola SPBU. Sebab, pengusaha SPBU mengaku rugi dengan kebijakan ini. Penjualan menurun dari biasanya.
Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim mengaku, kebijakan ini sudah dibahas dengan semua pemangku kepentingan. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pengusaha SPBU, seperti dilansirmerdeka.com.
"Kita semua bahas dengan Hiswana Migas, semua pihak, pemerintah, kita mungkin lakukan dalam jangka pendek," ujar Ibrahim kepada merdeka.com di Jakarta, Minggu (3/8).
Ibrahim yakin, kebijakan ini tidak serta merta membuat pendapatan SPBU tergerus tajam. Terlebih, saat ini pendapatan pengelola SPBU tidak hanya bertumpu dan mengandalkan penjualan BBM. "Sekarang konsep pompa bensin, ada ritel juga, jual roti, makanan, dan lain-lain. Pendapatan besar dari itu juga, penjualan minyak tidak sampe setengah (dari pendapatan)," jelasnya.
Tidak hanya itu, lanjut Ibrahim, dengan hanya menjual solar nonsubsidi, pengelola SPBU justru diyakini bakal untung. Sebab, marjin harga antara solar subsidi dan nonsubsidi cukup jauh. Jadi keuntungan bisa diperoleh dari marjin itu. "Biasanya kalau jual solar subsidi 10 kali mobil mengisi, nanti keuntungannya sama dengan 3 kali mobil mengisi yang nonsubsidi," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala SPBU 31.102.02 Tanah Abang, Ferliq mengatakan meski baru awal diterapkan, diperkirakan SPBU ini mengalami penurunan omzet.
"Rata-rata pelanggan kami memang non pemerintah, jadi setiap harinya kami jual 6 ribu liter (KL), ya ruginya kisaran segitu," ujarnya kepada merdeka.com, Jakarta, Jumat (1/8).
Dia belum dapat memperkirakan nilai kehilangan potensi pendapatan setelah kebijakan ini berlangsung. "Saya tak tahu persis rupiahnya berapa, yang pasti 6 ribu kiloliter sudah hilang. Karena memang belum terlihat juga karena ini masih lebaran, mungkin senin nanti," katanya.
Dia mengakui kebijakan anyar pemerintah ini sangat berpengaruh ke semua pihak. Kemungkinan, pelanggan akan beralih ke solar non subsidi. "Kalau pengaruh pasti ada, pelanggan mencari selisih harga di luar. (PR-cr.Ram)
Agrinas Dapat Dukungan Penuh Talang Mamak di Inhu, Patih Edi Darma dan Patih Sibun Ajak Jaga Kebun Yang Dikelola Pancawaskita
PELITARIAU, Inhu - Dukungan terhadap operasional pengelolaan ke.
Polsek Kelayang Lakukan Monitoring, Peternakan Kambing Warga di Kelayang Berkembang Pesat
PELITARIAU, Inhu – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, jaja.
Dikelola PT Pancawaskita, Kebun Agrinas Rakit Kulim Jadi Harapan Ekonomi Baru Masyarakat Talang Mamak
PELITARIAU, Inhu - Dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kebun kelapa sawit o.
Kapolsek Rengat Barat Cek Lahan Jagung Talang Jerinjing, Pastikan Program Ketahanan Pangan Berjalan
PELITARIAU, Inhu - Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus di.
Ini 7 Kegiatan Maraton Ketahanan Pangan Polsek Rengat Barat Di Hari Libur
PELITARIAU, Inhu – Meski dalam suasana hari libur nasional untuk peringatan Ha.
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Polsek Rengat Barat Aktif Dampingi Program P2B
PELITARIAU, Inhu - Dalam rangka mendukung Program Asta Cita Presiden Republik In.








