DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Pandangan MUI soal New Normal dalam Perspektif Islam

Editor :Bambang S Rabu,27 Mei 2020 | 17:40:25 WIB
Pandangan MUI soal New Normal dalam Perspektif Islam Ket Foto : Jokowi tinjau kesiapan New Normal di MRT.

PELITARIAU, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai saat ini masih membahas terkait 'new normal' untuk menjalani pola hidup baru di tengah pandemi Covid-19, dari segi kesehatan dalam perspektif Islam.

Wasekjen MUI Amirsyah Tambunan mengatakan, umat Islam harus hati-hati dalam memahami istilah new normal baik teks maupun konteks. Menurut dia, kehati-hatian itu berdasarkan tradisi literasi Umat Islam mempelajari Alquran yang memiliki beda titik, baris, apalagi beda huruf punya makna yang berbeda.

"Tradisi ini merupakan keniscayaan bagi umat Islam untuk lebih hati-hati dalam membaca kosa kata atau diksi seperti New Normal," kata Amirsyah kepada merdeka.com, Rabu (27/5).

New Normal Jangan Buat Umat Bingung

Menurutnya, kata new normal, bisa sebaliknya jadi tidak normal, karena fakta empirik masih belum normal. Oleh sebab itu, menuju new normal harus dimulai dari pemahaman yang normal.

"Ketika melihat situasi objektif seperti saat ini belum normal, masih memerlukan tahapan yang harus terukur, sehingga kita tidak terjebak dengan diksi yang justru membuat umat bingung," ujarnya.

Mengutip penjelasan Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Henri P. Kluge, Amirsyah menjelaskan bahwa ada enam syarat negara menerapkan new normal. Pertama harus bedasarkan penurunan transmisi angka pasien Covid-19.

"Jika transmisi belum terkendali, maka new normal belum dapat dilakukan. Kedua, kapasitas sistem kesehatan sudah mampu mengidentifikasi dan melakukan Test, Trace dan Treat," kata Amirsyah.

Ketiga, Amirsyah mengatakan new normal harus tetap melakukan pengaturan yang ketat pada tempat maupun komunitas rentan, seperti lansia dan pemukiman padat. Keempat, pencegahan di tempat kerja dengan menerakan protokol medis yang ketat.

"Termasuk, kelima risiko imported case sudah dapat dikendalikan oleh semua pemangku kepentingan dan terakhir masyarakat mempunyai kesadaran kolektif untuk ikut berperan dan terlibat terutama melaksakan protokol medis," kata dia.

New Normal dalam Perspektif Islam

Atas new normal yang ramai menjadi perbincangan, Amirsyah menerangkan new normal dari pandangan Islam yakni, dimulai dari kehidupan normal, tidak bisa jika dari kehidupan yang belum normal seperti saat ini.

"Kehidupan normal dalam Islam terhindar dari situasi darurat. Dalam aqidah fiqih menghindarkan kerusakan atau kerugian diutamakan atas upaya membawakan keuntungan atau kebaikan (dar’ul mafâsid muqoddam ‘alâ jalbil masholih). Untuk itu dalam aspek ajaran Islam menekankan kepada pencegahan melalui konsep bersuci (taharah)," ujar dia.

Selain itu, dia menyebutkan Islam telah mengajarkan konsep bersuci lahir dan batin. Dalam kaitanya, tradisi bersuci lahir batin merupakan awal seseorang menuju kehidupan yang normal (new normal) karena telah baligh dan berakal.

Maka dari itu new normal dalam Islam, kata Amirsyah, yakni memelihara agama, Jiwa, Keturunan, harta, dan akal semua itu sebagai kewajiban menuju kehidupan new normal, dalam pandangan Islam.

"Islam mengatur tata kehidupan manusia normal untuk mendapatkan kebahagian baik hidup di dunia maupun akhirat nanti. Sehingga umat muslim akan terdorong untuk selalu melaksanakan tindakan yang normal dan bermanfaat bagi orang lain. Perbuatan yang normal menjadi awal bangkitnya sebuah masyarakat dan bangsa," pungkasnya. **prc4

sumber: merdeka.com


Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved