Pilihan
Kejari Inhu Rilis Capaian Kinerja 2025, Ungkap Sejumlah Perkara Strategis
Dibaca : 1085 Kali
PT Inecda Bangun Jalan 6 KM, Wujud Komitmen Pada Masyarakat dan Pemda
Dibaca : 2733 Kali
Pansus DPRD Riau Kunjungi Rohul, Bahas Ranperda Penyelenggaraan Perhubungan
Dibaca : 5283 Kali
Sidang Gugatan PMH PT SBP Dihantui Ketidakhadiran Kades dan Turut Tergugat
Dibaca : 2425 Kali
Geger, Belut Keramat 1,5 Meter Ditaklukan Warga Inhu
Belut berukuran tak lazim di Air Waiselaka Desa Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku
PELITARIAU, Maluku - Belut raksasa berukuran 1,5 meter dengan usia lebih dari 30 tahun, yang terdapat di Air Waiselaka Desa Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku dikunjungi oleh delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau. Ratusan belut yang terdapat di desa Waai diyakini keramat sehingga tidak dimakan oleh masyarakat setempat.
Delegasi PWI Provinsi Riau yang dipimpin langsung ketua PWI Riau H Dheni Kurnia, Senin (6/2/2017) sebelum mengunjungi lokasi Waiselaka yang terdapat ratusan belut raksasa berukuran tak lazim tersebut, sebelumnya delegasi PWI Riau mengunjungi lokasi pameran Hari Pers Nasional (HPN) 2017 di lapangan merdeka kota Ambon dan pantai Nat Sheva di Desa Suli Kecamatan salahuto Kabupaten Maluku Tengah.
Usai menikmati suasan pantai Nat Sheva, Liaison Offeicer (LO) HPN membawa delegasi PWI Riau menuju desa Waai. Ratusan ekor belut raksasa yang diyakini keramat tersebut, terdapat didalam kolam yang menurut riwayatnya, kolam terbentuk akibat tertancapnya tombak sakti secara misterius yang mengeluarkan air.
Ratusan belut raksasa keramat di desa Waai, dijaga oleh seorang pawang belut bernama Ombai Bakarbessi (76), kakek penjaga belut ini sudah menekuni profesinya menjaga belut-belut keramat tersebut sejak tahun 1976. "Air dikolam ini kami minum tanpa di masak lagi, belut-belut ini tidak boleh di makan, sebab belutnya keramat," kata Ombai.
Belut menurut bahasa Ambon bernama morea, dimana belut-belut raksa dipanggil pawang belutnya sambil diberi makan telur ayam. Beberapa orang delegasi PWI Riau, ikut turun kedalam kolam bersama pawang Ombai, sebelumnya Ombai membaca mantra sambil memukul air kolam diyakini memanggil belut untuk keluar dari dalam lobang-lobang pinggir kolam.
Setelah belut berenang mendekati pawang, Ombai mengambil sebuah telur ayam sambil mengelus dada belut dan mengelus bagian punggung belut raksasa, agar belut menjadi jinak dan Ombai menawarkan delegasi PWI Riau untuk ikut memegang belut. "Hati-hati tangan jangan didepan mulut belut, nanti bisa digigitnya," kata Ombai mengingatkan delegasi PWI Riau salah satunya penulis Zulpen Zuhri yang juga warga Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau dalam rombongan delegasi PWI Riau.
Sulit memang untuk memegang apalagi mengangkat belut raksasa tersebut, namun penulis berhasil memegang puluhan belut tersebut didalam kolam air yang bening dan mengangkat satu dari ratusan belut raksasa keluar dari dalam kolam. "Orang Inhu taklukan belut raksasa," celetuk Sekretaris PWI Riau Eka Putra Nazir yang juga berusaha untuk memegang kawanan belut raksasa tersebut.
Selain penulis, delegasi PWI Riau, Eka Putra Nazir dan Herlina Warga Kota pekanbaru, juga ikut masuk kedalam kolam Hadrizal warga Kabupaten Pelalawan yang berusaha untuk menaklukan belut raksasa keramat yang terdapat di Maluku tersebut. Selain ukuran tak lazin belut di kolam Waai berat belut juga berkisar 30 Kg. **red.
Catatan Redaksi PELITARiAU.com dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2017 di Provinsi Maluku.
Delegasi PWI Provinsi Riau yang dipimpin langsung ketua PWI Riau H Dheni Kurnia, Senin (6/2/2017) sebelum mengunjungi lokasi Waiselaka yang terdapat ratusan belut raksasa berukuran tak lazim tersebut, sebelumnya delegasi PWI Riau mengunjungi lokasi pameran Hari Pers Nasional (HPN) 2017 di lapangan merdeka kota Ambon dan pantai Nat Sheva di Desa Suli Kecamatan salahuto Kabupaten Maluku Tengah.
Usai menikmati suasan pantai Nat Sheva, Liaison Offeicer (LO) HPN membawa delegasi PWI Riau menuju desa Waai. Ratusan ekor belut raksasa yang diyakini keramat tersebut, terdapat didalam kolam yang menurut riwayatnya, kolam terbentuk akibat tertancapnya tombak sakti secara misterius yang mengeluarkan air.
Ratusan belut raksasa keramat di desa Waai, dijaga oleh seorang pawang belut bernama Ombai Bakarbessi (76), kakek penjaga belut ini sudah menekuni profesinya menjaga belut-belut keramat tersebut sejak tahun 1976. "Air dikolam ini kami minum tanpa di masak lagi, belut-belut ini tidak boleh di makan, sebab belutnya keramat," kata Ombai.
Belut menurut bahasa Ambon bernama morea, dimana belut-belut raksa dipanggil pawang belutnya sambil diberi makan telur ayam. Beberapa orang delegasi PWI Riau, ikut turun kedalam kolam bersama pawang Ombai, sebelumnya Ombai membaca mantra sambil memukul air kolam diyakini memanggil belut untuk keluar dari dalam lobang-lobang pinggir kolam.
Setelah belut berenang mendekati pawang, Ombai mengambil sebuah telur ayam sambil mengelus dada belut dan mengelus bagian punggung belut raksasa, agar belut menjadi jinak dan Ombai menawarkan delegasi PWI Riau untuk ikut memegang belut. "Hati-hati tangan jangan didepan mulut belut, nanti bisa digigitnya," kata Ombai mengingatkan delegasi PWI Riau salah satunya penulis Zulpen Zuhri yang juga warga Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau dalam rombongan delegasi PWI Riau.
Sulit memang untuk memegang apalagi mengangkat belut raksasa tersebut, namun penulis berhasil memegang puluhan belut tersebut didalam kolam air yang bening dan mengangkat satu dari ratusan belut raksasa keluar dari dalam kolam. "Orang Inhu taklukan belut raksasa," celetuk Sekretaris PWI Riau Eka Putra Nazir yang juga berusaha untuk memegang kawanan belut raksasa tersebut.
Selain penulis, delegasi PWI Riau, Eka Putra Nazir dan Herlina Warga Kota pekanbaru, juga ikut masuk kedalam kolam Hadrizal warga Kabupaten Pelalawan yang berusaha untuk menaklukan belut raksasa keramat yang terdapat di Maluku tersebut. Selain ukuran tak lazin belut di kolam Waai berat belut juga berkisar 30 Kg. **red.
Catatan Redaksi PELITARiAU.com dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2017 di Provinsi Maluku.
BERITA LAINNYA +INDEKS
Komunitas Harmoni Kasih Nikmati Wisata Budaya Melayu di Istana Asserayah dan Kota Siak Sri Indrapura
PELITARIAU, Siak - Komunitas sosial Harmoni Kasih (HK) menggelar kegiatan wisata.
13 Tahun Berjalan, Pemerintah Tetapkan Hari Puisi Indonesia
PELITARIAU , Jakarta – Pemerintah menetapkan tanggal 26 Juli sebagai Har.
Ketum JMSI Teguh Santosa Kunjungi Rumah Adat Bagas Godang di Madina
PELITARIAU, Sumut - Ketua Umum Jaringan Media Siber.
Wapres Ikut Viralkan Arkhan, Bupati Kuansing Dorong Semaraknya Pacu Jalur
PELITARIAU, Pekanbaru - Tarian khas Pacu Jalur dari Kuantan Singingi, Riau, yang.
Bupati Inhu dan Anggota DPRD Riau Terima Buku "Reunifikasi Korea" Karya DR Teguh Santosa
PELITARIAU, Riau — Bupati Indragiri Hulu (Inhu)-Riau, Ade Agus Hartanto, bersa.
Utamakan Kebersihan Lokasi dan Keamanan Pengunjung Danau Raja
PELITARIAU, Inhu - Pihak pengelola berupaya meningk.








