Kanal

Pelaku Begal Dari Kalangan Remaja, Ini Kata Pakar Kriminolog

PELITARIAU, Pekanbaru- Belakangan ini kejahatan begal bersenjata tengah marak di Kota Pekanbaru, bahkan mereka tidak segan-segan untuk melukai korbannya dengan senjata yang meraka bawa.
 
Namun permasalahannya bukan senjata atau kejahatan apa yang mereka lancarkan, tetapi mengapa pelaku begal yang kini tengah marak di Pekanbaru sebagian besar pelakunya merupakan para anak remaja tanggung.
 
Tim Pemburu Begal bentukan Polresta Pekanbaru baru-baru ini telah berhasil mengamankan tiga pembegal yang tercatat sudah beraksi 25 kali hanya dalam kurun waktu enam bulan. Ketiganya diketahui masih berusia belia, dimana satu orang terpaksa ditembak kakinya, akibat berusaha melarikan diri.
 
Terkait fenomena pelaku begal kalangan remaja ini, pakar kriminolog yang juga dosen di salahsatu universtitas di Pekanbaru, Kasmanto Rinaldi pun angkat bicara. Menurutnya ada tiga faktor penyebab sehingga fenomena begal 'bergeser' pada usia muda.
 
Hal ini bisa dilihat dari istilah yang ia sebut sebagai Routinity Activity Teori, yang menganalisa kejahatan dari tiga elemen, dimana dalam diri pelaku beranggapan kalau membegal merupakan pilihan yang rasional. "Dalam artian keinginan dia untuk menjadi begal cukup tinggi," katanya.
 
Kemudian adanya sasaran atau potensial victim. Dalam hal ini disebabkan oleh tingginya mobilitas masyarakat pengguna jalan raya yang sehari-hari menggantungkan hidup dan profesinya dengan harus selalu menggunakan jalan raya tersebut dan terakhir, yakni dikarenakan kurangnya pengawasan dari orang tua.
 
"Jika dilihat lebih lanjut dari aspek motivasi offender atau pelakunya yang usia rata-rata masih sekolah, hal ini bisa saja terjadi karena para remaja kini lebih banyak sebarannya di luar rumah. Maksudnya, banyak remaja yang menghabiskan waktu jauh dari pengawasan keluarga, terutama orangtua," ungkapnya kepada pelitariau.com.
 
Hal ini juga bisa terjadi dikarenakan 
Para remaja diluar sana mudah menemukan kelompok yang intim dengan mereka, yang paham apa keinginan mereka dan seterusnya, sehingga terbentuklah kesepahaman ide, hobi dan keinginan,"sambung Kasmanto.
 
"Kalau itu positif tidak masalah, namun bagaimana jika kesepahaman itu mengarah ke hal negatif. Ini kan yang jadi masalahnya, karena biasanya komunitas mereka lebih cendrung ke hal yang negatif karena ketiadaan sosok penasehat di komunitas mereka tersebut," ulasnya.
 
Kedepannya, sebagai antisipasi yakni dengan memaksimalkan peran masing-masing pihak, mulai dari orangtua, masyarakat sekitar, pemerintah daerah dalam hal ini Satpol PP, dinas sosial serta pihak kepolisian, agar mempersempit tempat, akses dan waktu mereka untuk melakukan aktivitas yang negatif.
 
Bagi para orang tua, selain belajar di sekolah, juga berikan kepada anak-anak kegiatan tambahan di rumah, seperti, les privat, belajar mengaji bagi yang muslim, dan hal-hal yang positiv lainnya, di lingkungan keluarga, sehingga waktu untuk bertemu dan melakukan hal yang negativ dengan teman-teman sejawatnya di luar berkurang.***osp

Ikuti Terus Pelitariau.com

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER