DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Waduh... !!! Karikatur Koran Jakarta Post Hina Islam

Editor : Sabtu,23 Agustus 2014 | 20:10:51 WIB
Waduh... !!! Karikatur Koran Jakarta Post Hina Islam Ket Foto : Sumber Republika
PELITARIAU, Jakarta - Karikatur koran Jakarta Post, edisi 3 Juli 2014, menuai kecaman. Dalam edisi yang dimuat di halaman 7, harian berbahasa Inggris tersebut memuat karikatur dengan gambar simbol Islam dalam ukuran yang cukup besar di rubrik Opini.
 
Itu setelah karikatur tersebut menggambarkan bendera berlafaz 'laa ilaha illallah' dengan logo tengkorak yang terpasang di bendera. Tidak sekadar itu, lafaz tahlil tersebut dipadukan dengan bendera tengkorak khas bajak laut. Kemudian, tepat di tengah tengkorak, tertera tulisan 'Allah, Rasul, Muhammad'. 
 
Gambar tersebut memuat karikatur dalam beberapa adegan. Adegan pertama menampilkan lima orang dalam posisi berlutut dengan mata tertutup kain dalam posisi berlutut di tanah dan tangannya terikat di belakang dalam posisi ditodong senjata.
 
Di belakang ke lima orang itu berdiri seorang pria berjenggot serta bersorban dalam posisi mengacungkan senjata laras panjang ke arah mereka, seolah-olah siap melakukan eksekusi. 
 
Gambar lainnya menunjukkan dari jarak dekat, terlihat mobil pick up merek Totoya, yang ditumpangi tiga orang dengan senjata berat, seperti peluncur roket dan antiserangan udara sedang siaga.
 
Sontak karikatur tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak. Termasuk dari organisasi masyarakat (ormas) Islam, Muhammadiyah. Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay mengatakan bahwa karikatur tersebut bisa saja diduga telah melanggar UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama.
 
Dia menjelaskan, untuk mengetahui apakah ada unsur penodaan di karikatur tersebut, Muhammadiyah akan melakukan kajian terlebih dahulu. "Jika terbukti ada unsur penodaan agama, tidak tertutup kemungkinan kami akan melaporkan hal ini kepada pihak berwajib, ujar Daulay, Senin (7/7). 
 
Daulay juga menyebut, semua pihak tidak ada yang kebal di hadapan hukum, termasuk redaksi Jakarta Post. "Semua pihak yang diduga melakukan pelanggaran dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, termasuk dalam hal ini Jakarta Post," ujarnya.
 
Bendahara umum PP Muhammadiyah, Anwar Abbas juga menyatakan, karikatur yang dimuat Jakarta Post sangat tendensius dan sinis terhadap Islam. "Media Jakarta Post, telah bermain-main dengan isu SARA dan pelecehan terhadap agama," tutur Anwar.
 
Anwar mengaku tidak habis pikir, koran berbahasa Inggris tersebut telah berbuat lalai, yang berdampak dapat menimbulkan 'clash' dan 'konflik horizontal'. "Tidak terbayang oleh saya mereka tidak akan tahu pemberitaan-pemberitaan semacam ini dapat memantik kemarahan umat," jelas Anwar.
 
Jika saja hal itu sampai terjadi, kata dia, apakah Jakarta Post mau dan sanggup untuk bertanggung jawab. "Media Jakarta Post telah melanggar kode etik jurnalistik," katanya.
 
Tidak hanya Muhammadiyah, PP Persatuan Islam (Persis) juga mengecam. Sekretaris Umum PP Persis, Irfan Safruddin mempertanyakan, kinerja Jakarta Post yang ceroboh memuat karikatur yang menghina pemeluk agama Islam. Dia menyentil, apakah penerbitan karikatur yang menghina kaum Muslim tersebut muncul dari koran berbahasa Inggris atau media amatiran?
 
Menurut dia, Jakarta Post adalah koran besar dan bereputasi tinggi. Namun, ia mempertanyakan mengapa pihak redaksi bisa memunculkan karikatur yang demikian menistaan umat Islam. Dia pasti hal itu tidak hanya sekadar lolos dari pengawasan, dan tentu ada tujuannya atau maksud tertentu.
 
Minta Maaf
Setelah menuai sejumlah kritikan dari sejumlah pihak, Koran Jakarta Post akhirnya meminta maaf atas pemuatan karikatur pada edisi Kamis (3/7), yang dinilai menghina umat Islam. Pemimpin Redaksi Jakarta Post Meidyatama Suryodiningrat menjelaskan kronologis dan latar belakang pemuatan karikatur tersebut.
 
Pemuatan karikatur itu lebih didasari atas kritik pengatasnamaan agama untuk melakukan kekerasan yang dilakukan oleh ISIS (Daulah Islam Irak dan Syiria) di Timur Tengah. Apalagi, kekerasan tersebut menimbulkan dampak negatif pada sesama kaum muslim di sana.
 
Karena itulah, Jakarta Post mengkritik kondisi tersebut melalui karikatur yang memuat bendera ISIS. Tetapi, bendera tersebut juga menggunakan kalimat suci umat Islam yakni "La Ilaha Illallah". Sehingga, memunculkan kesan bahwa Jakarta Post menghina lambang Islam tersebut.
 
Menurut Meidyatama, sebelum pemuatan karikatur itu, pihaknya sama sekali tak berpikiran bahwa akan berdampak munculnya reaksi keras dari umat Islam. Karena, redaksi Jakarta Post sama sekali tak memiliki maksud untuk menghina salah satu agama.
"Tapi inilah yang terjadi, yang kita anggap awalnya aman dan bagus ternyata setelah karikaturnya hasilnya memunculkan tanggapan yang beragam," kata Meidyatama seperti dikutip dari Republika.co.id, Senin (7/7).
 
Meidyatama tetap mengakui, bahwa kebijakan mengeluarkan karikatur itu kurang bijak. Sehingga, pihaknya akan tetap mengeluarkan pernyataan maaf melalui koran Jakarta Post dan di situs resmi Jakarta Post. "Kita tetap akan mengeluarkan permintaan maaf," kata Meidyatama.* 
 
REPUBLIKA.CO.ID

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved