PAN dan Golkar Dukung Jokowi karena Incar Kursi Menteri

Sabtu, 16 Juli 2016

Emrus Sihombing

PELITARIAU, Jakarta - Kabar tentang perombakan kabinet atau reshuffle semakin terdengar santer. Bahkan kali ini reshuffle akan mengakomodasi masuknya kader Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Menurut pengamat politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing, dalam politik tidak ada yang gratis. Terlebih, PAN dan Golkar balik badan menjadi pendukung pemerintahan Joko Widodo setelah meninggalkan Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada Pemilu Presiden 2014 silam.

Karenanya Emrus meyakini pasti ada kesepakatan politik sehingga PAN dan Golkar mendukung pemerintah. "Tidak ada makan siang gratis," tegas Emrus, Sabtu (16/7) sebagaimana diberitakan JPNN.

Emrus lantas menganalogikan politik dengan kehidupan rumah tangga. Dalam sebuah rumah tangga, suami yang sudah tiga bulan tidak memberi nafkah ke istri tentu akan  diceraikan.

Begitu juga dengan dunia politik. Tentu ada syarat-syarat atau balas jasa atas dukungan yang diberikan. "Saya pikir ada sandiwara politik jika ada di dalam politik menyatakan memberikan dukungan tanpa syarat," ujarnya.

Karenanya Emrus yakin dengan dukungan PAN dan Golkar, maka kedua partai itu akan mendapat jatah kursi menteri di Kabinet Kerja. Soal jumlahnya, Emrus memprediksi Golkar dan PAN akan mendapatkan masing-masing satu kursi menteri.

"Karena mereka baru mendukung sekarang. Sedangkan dalam Pilpres kemarin mereka tidak berkeringat, malah menjadi oposisi melawan Jokowi," ungkapnya.

Kalau menurut analisis Emrus, PAN akan mendapatkan posisi menteri riset, teknologi dan pendidikan tinggi. Sedangkan Golkar akan mendapatkan posisi menteri pemuda dan olahraga.

Emrus menegaskan, PAN dan Golkar punya kader yang berkapabilitas untuk menduduki pos-pos itu. "Jadi, tinggal menunggu waktu saja," ucapnya.**