
Puteri Indonesia Riau 2026, Prima Yohana
PELITARIAU, PEKANBARU - Layar ponsel itu terus bergulir. Dalam hitungan detik, seorang remaja di Pekanbaru bisa berpindah dari menyaksikan tren fesyen jalanan di Seoul, mendengarkan ketukan musik hip-hop dari Los Angeles, hingga melihat estetika kafe-kafe di Jakarta. Di era digital ini, dunia terasa mengkerut dalam genggaman. Budaya global bukan lagi tamu jauh, melainkan teman sekamar generasi muda sehari-hari.
Namun, di tengah riuh rendah arus informasi tanpa batas itu, sebuah tanya besar menyelinap, di mana kita meletakkan jati diri tempat kita berpijak
Pertanyaan reflektif inilah yang pemuda-pemudi Riau coba urai. Bagi Puteri Indonesia Riau 2026, Prima Yohana, fenomena kegandrungan anak muda terhadap budaya asing, baik yang berkiblat ke Barat maupun demam Korea Selatan (Korean Wave), adalah realitas yang tak perlu dimusuhi. Keterbukaan teknologi adalah keniscayaan. Yang menjadi soal adalah bagaimana menjaga agar akar tradisi tidak tercerabut dari tanah kelahirannya.
"Untuk mencintai budaya lokal itu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kita harus tahu dan sadar di mana kita lahir dan di mana kita dibesarkan," ujar Prima Yohana saat berbincang di Pekanbaru, Kamis (02/07/2026) malam.
Bagi dara yang menyandang mahkota Puteri Indonesia Riau ini, mengenal warna-warni budaya sendiri adalah langkah paling mula. Kesadaran itulah yang nantinya akan memantik rasa kepemilikan dan cinta yang tulus terhadap Bumi Lancang Kuning.
Romantisme Langkah Kecil
Seringkali, merawat tradisi dan memajukan daerah dibayangkan sebagai sebuah proyek mercusuar yang megah, rumit, dan berbiaya besar. Prima menepis anggapan itu. Baginya, mencintai tanah kelahiran bisa diwujudkan lewat hal-hal subtil yang kerap luput dari perhatian.
"Kita harus tahu di mana kita menghirup udara dan bagaimana cara kita berterima kasih kepada lingkungan sekitar kita. Mencintai budaya itu bisa dimulai dari langkah-langkah kecil seperti itu," jelasnya lembut.
Sikap peduli pada tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menghargai nilai-nilai kesopanan khas Melayu di sekitar rumah adalah bentuk konkret dari rasa syukur tersebut. Baginya, Tuhan tidak keliru menakdirkan seseorang tumbuh besar di atas tanah Riau, dan merawat tempat ini adalah cara terbaik untuk membalas kebaikan tersebut.
"Walaupun saat ini kita menyukai hal-hal yang berbau Barat atau tren Korea, kita tidak boleh lupa untuk bersyukur terhadap tanah kelahiran kita. Tuhan telah memberikan kebaikan sejak kita lahir hingga tumbuh besar di tanah ini, sudah seharusnya kita balas dengan cintai untuk memajukan Riau ini," tutur Prima.
Senjata Digital di Tangan Generasi Z
Jika media sosial dan ruang digital dituding sebagai pintu masuk utama yang mengikis budaya lokal, Prima justru melihatnya dari sudut pandang sebaliknya. Media digital adalah senjata paling demokratis yang pernah dimiliki generasi muda. Siapa saja, tanpa memandang status, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi duta budaya. Promosi pariwisata dan adat istiadat tidak lagi kaku, tidak lagi melulu harus menunggu gelaran festival formal setahun sekali.
"Oleh karena itulah, anak-anak muda jangan ragu untuk bergerak melakukan promosikan tanah kelahirannya. Unggah postingan tentang ciri khas lokal, itu sudah termasuk kita bangga dengan daerah ini," terangnya bersemangat.
Satu video pendek tentang kelezatan kuah asam pedas ikan patin yang mengepul, satu foto estetis sudut Istana Siak yang megah, atau ulasan tentang keunikan kain tenun songket Riau di akun media sosial pribadi, memiliki daya tular yang luar biasa. Unggahan sederhana itu bisa menjadi jendela dunia untuk melongok kekayaan Riau.
Menolak Lenyap, Memilih Tumbuh
Menjaga identitas di era globalisasi bukanlah tentang menutup diri, memasang barikade, atau menjadi antikritik terhadap modernitas. Menjaga identitas adalah tentang keseimbangan. Menikmati musik pop dunia sembari tetap fasih mengabarkan keelokan budaya sendiri.
Prima Yohana optimis, jika setiap anak muda di Riau memiliki secuil rasa bangga di dadanya dan mengkonversinya menjadi aksi nyata di ruang digital, maka budaya Riau tidak akan berakhir menjadi cerita usang di buku sejarah. Dengan begitu, budaya lokal tidak hanya bertahan tetapi juga mampu berkembang mengikuti perkembangan zaman.
"Kita, generasi muda adalah wajah masa depan Riau yang memiliki tanggung jawab menjaga sekaligus mempromosikan nilai-nilai adat budaya dan kekayaan wisata," ucapnya.
Malam makin larut di Pekanbaru, namun pesan itu tertinggal jelas, masa depan Riau tidak ditentukan oleh seberapa kuat arus global menerpa, melainkan oleh seberapa kokoh generasi mudanya berdiri memeluk jangkar tradisi mereka sendiri.**Prc6