
PELITARIAU, Pekanbaru – Perayaan Imlek Bersama Tionghoa Pekanbaru Tahun 2577 Kongzili/2026 Masehi akan digelar secara meriah di Furaya Hotel Pekanbaru pada Minggu, 22 Februari 2026.
Kepastian tersebut disampaikan panitia dalam konferensi pers yang berlangsung di Sekretariat Marga Huang Pekanbaru, Jalan Permata, Rabu (11/2/2026).
Konferensi pers tersebut dihadiri sejumlah perwakilan organisasi dan lembaga Tionghoa di Pekanbaru, di antaranya Wakil Ketua Panitia Karim Ong yang diwakili Sucandra (Liok Kui Tong–Enam Marga Bersaudara), Ket Tjing (Permabudhi Riau/MAPANBUMI), Alex Sidik (Walubi Pekanbaru), Akmal (HTT Pekanbaru), Harry Suwandi (HBT Pekanbaru), serta Erna Willianti (Witama School).
Tahun ini, kepanitiaan dipercayakan kepada Marga Huang Pekanbaru. Ketua Panitia Imlek Bersama Tionghoa Pekanbaru, Djohan Oei, menyampaikan bahwa perayaan tersebut merupakan agenda tahunan yang lahir dari kesepakatan bersama berbagai organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, serta unsur pendidikan Tionghoa di Kota Pekanbaru.
“Kegiatan Imlek bersama ini merupakan agenda tahunan yang melibatkan banyak organisasi. Tahun ini kita sepakat melaksanakannya pada Minggu, 22 Februari di Furaya,” ujar Djohan.
Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 13.30 WIB hingga selesai itu akan diisi beragam pertunjukan seni dan budaya, antara lain tarian tradisional, atraksi barongsai, serta tarian naga yang dibawakan oleh komunitas dan organisasi Tionghoa di Pekanbaru.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sebagai medium pelestarian budaya serta penguatan identitas kultural masyarakat Tionghoa di daerah.
Panitia juga mengundang unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk turut hadir dan meramaikan suasana kebersamaan. Menurut Djohan, pihaknya telah melakukan audiensi dengan pemerintah daerah dan unsur Forkopimda. Sebagian besar menyatakan kesiapan untuk hadir, meskipun tidak menutup kemungkinan akan diwakilkan apabila berhalangan.
Terkait tradisi perayaan, Djohan menjelaskan bahwa momen detik-detik pergantian Imlek dan pelepasan kembang api di Jalan Karet tahun ini ditiadakan sebagai bentuk kepatuhan terhadap imbauan pemerintah. Meski demikian, nuansa perayaan tetap dihadirkan melalui pemasangan 888 lampion di sepanjang Jalan Karet yang akan dinyalakan mulai 10 Februari hingga 4 Maret 2026.
“Walaupun tidak ada kembang api, kita tetap menghadirkan suasana Imlek melalui pemasangan 888 lampion sebagai simbol keberuntungan dan harapan baik,” jelasnya.
Djohan juga menekankan pentingnya menjaga nilai toleransi dan harmoni sosial, mengingat perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Tionghoa untuk tetap menjaga keharmonisan dan saling menghormati,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau, Lindawati, menyatakan bahwa perayaan Imlek bersama ini menjadi momentum strategis untuk mempererat persaudaraan antarorganisasi Tionghoa di Pekanbaru.
“Ini seperti open house bersama yang kita adakan setahun sekali. Tahun ini kita gelar pada Minggu agar lebih banyak warga bisa hadir. Kami mengundang seluruh masyarakat Tionghoa untuk datang dan meramaikan kegiatan di Furaya,” tuturnya.
Melalui perayaan ini, panitia berharap semangat kebersamaan, solidaritas sosial, serta nilai toleransi antarumat beragama di Kota Pekanbaru dapat semakin diperkuat, sejalan dengan semangat Imlek sebagai momentum pembaruan, harapan, dan persaudaraan.**Prc6