
H. Zulfan Heri, S.IP, M.Si Direktur Éksékutif ISDP. bersama Emak saat di Kampung
PELITARIAU, Com - Selama dua tahun berturut-turut hari raya Idul Fitri, saya sekeluarga lebih memilih merayakan hari raya Idul Fitri di kota Pekanbaru. Sejak pandemi Covid-19, aktivitas lebih banyak di Pekanbaru. Kalau pun ada kegiatan diluar kota, sangat dibatasi. Alhamdulillah tensi Covid-19 sudah melandai dan turun drastis.
Momentum hari raya Idul Fitri 1443 H/2022 M, dimanfaatkan dengan baik oleh saya untuk mudik ke kampung, desa lubuk muda kecamatan siak kecil, Kabupaten Bengkalis. Tiga jam sudah sampai kampung lubuk muda dari Kota Pekanbaru. Emak tinggal sendiri di kampung. Lebih afdhol dan penuh berkah berhari raya Idul Fitri tahun ini dengan emak. Saya sekeluarga balek kampung.
Sejak hari Rabu, 27/4/2022 sudah tiba di kampung,bertepatan 26 Ramadhan 1443 H. Keesokan malamnya, féstival lampu colok pun digelar di Kabupaten Bengkalis, termasuk di Kota Dumai. Pemuda dan Remaja Dusun Melati Desa Lubuk Muda, tempat kelahiran penulis turut serta menjadi peserta féstival lampu colok tersebut. Tentu, sangat meriah saat pembukaan féstival lampu colok malam itu.
Tak terasa, dalam usia penulis 52 tahun, masih diberi nikmat hidup oleh Allah, hingga bisa berkumpul dengan emak, dan sekaligus menikmati hari raya Idul Fitri 1443 H. Emak sudah berusia 72 tahun, masih dalam keadaan sehat wal'afiat, Aamiin. Memang di hari raya Idul Fitri tahun ini, saya kehilangan sosok sang Ayah, yang sudah dua tahun dua bulan duluan menghadap sang Pencipta. Semoga Ayah diampuni dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya dan ditempatkan di surga firdaus-Nya Allah, Aamiin.
Di hadapan emak ba'da subuh, pagi 1 Syawal 1443 H, hari penuh mulia ini, saya duduk tersimpul menghadap emak, bersama istri dan anak-anak meminta ampun dan maaf atas kesalahan selama ini terhadap emak, dan lalai mengurus emak. Pengorbanan emak tak bisa diukur dan tak setanding dengan kesuksesan yang kami raih. Karena kesuksesan itu hadir berkat do'a emak selama ini. Makasih emak. Bagi yang masih punya orang tua bersegegaslah mengurusnya sebelum ajal menjemputnya. Menyesal tiada arti ketika maut berpisah.
Hari raya di kampung memang memiliki kebahagiaan dan keistimewaan tersendiri. Suasananya ber-Idul Fitri sungguh terasa. Diawali saling bermaaf-maafan kepada Emak, istri, anak-anak, dan adik-beradik yang meluangkan waktu balek kampung. Dilanjut dengan sholat sunnah Idul Fitri berjemaah di musholla Darul Iman,yang lebih populer disebut "Surau Melati" oleh warga di masa kecil penulis dulu, karena kebetulan berlokasi didusun Melati.
Tak cukup sampai di situ, usai sholat, saling bermaafan sesama jemaah yang hadir, dilanjutkan dengan kegiatan rombongan mengunjungi rumah warga yang ikut bergabung. Setelah siap sholat Idul Fitri 1 Syawal, pagi hari nan cerah mulai bergerak hingga sore, bahkan kadang bisa sampai malam baru selesai kegiatan rombongannya. Sungguh asyik, momen ini saya manfaatkan dengan baik untuk bisa bertemu dengan orang-orang kampung, guru-guru penulis di sekolah dasar dan menengah dulu, teman sekolah, kerabat dekat dan sanak keluarga.
Beragam menu makanan dan minuman disaji atau dihidangkan di setiap rumah yang dikunjungi. Yang tak kalah penting, adalah "ketupat" adalah andalan utama menu pada setiap lebaran selalu ada di setiap rumah warga. Disamping menu makanan lainnya yang tak kalah lezat. Ditengah terik panas matahari, semangat bersama mengunjungi rumah-rumah jemaah yang berhimpun dalam rombongan Musholla Darul Iman berjalan lancar tiada kendala. Tua-muda, dan para remaja turut meramaikan dan memeriahkan kunjungan ke rumah warga yang ditutup dengan pembacaan do'a disetiap rumah yang didatangi setelah menyantap makanan enak, sambil bercerita dan bersenda gurau, serta menikmati minuman yang penuh segar. Begitulah tradisi rombongan di Idul Fitri. Keren !.
Bagi saya, suasana ini selain dimanfaatkan saling bermaaf-maafan, juga dijadikan medium silaturrahim. Karena saya tinggal di Pekanbaru, kumpul beramai (baca: rombongan) di saat Idul Fitri satu tahun sekali tidak boleh dilewati begitu saja.
Penting !. Sejak duduk di bangku SMP tempo dulu, sudah diajak dan diajari Ayah dikala beliau masih hidup,berkeliling kampung mengunjungi rumah warga ikut dalam rombongan. Sebuah tradisi "fenomenal" dan "monumental" setiap hari raya Idul Fitri yang penuh fitrah dan mulia ini.
Al-akhir, semoga emak sehat selalu, dan tetap dalam lindungan Allah SWT. Dipagi hari yang mulia dan penuh fitrah ini, 1 Syawal 1443 H, anak emak bersama istri dan cucu-cucu emak memohon ampun dan maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat selama ini sama emak. Aamii. **