
Kasus pemotongan kucing
PELITARIAU - PELAKU yang menjagal banyak kucing di sebuah rumah jagal di Jalan Tangguk Bongkar VII Nomor 50, Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan diketahui berinisial MS.
Dari hasil pemeriksaan polisi di lokasi kejadian, diketahui para tetangga MS sudah tahu kalau MS memang sudah belasan tahun memotong kucing dan menjual dagingnya.
Daging kucing itu dijual seharga Rp70 ribu per kilogram, dan biasanya dipasok ke lapo-lapo tuak.
Menurut penuturan tetangga MS, Anggiat Sipahutar, MS memotong kucing dan menjual dagingnya sebagai caranya mencari nafkah.
“Itu ajalah kerjanya. Orang lajang, dia motong kucing. Untuk dijualnya, untuk cari makannya. Tadi pun dia baru siap motong,” kata Anggiat.
Sejak kasus ini mencuat ke permukaan dan jadi konsumsi khalayak ramai di media sosial, beredar kabar kalau pelakunya sudah tertangkap. Namun, informasi tersebut tidak benar.
“Tadi udah nelpon polisi juga, dan PELAKU BELUM TERTANGKAP :), Media please, jangan bohong dong,” ujar Sonia Rizkika Rai, perempuan yang awalnya mengunggah kasus ini di media sosial hingga jadi perhatian publik ramai.
Dalam laporan pihak kepolisian, Sonia diketahui merupakan mahasiswa, warga Jalan Tangguk Bongkar VII Nomor 50, Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai.
Saksi yang mengetahui kasus itu adalah Rania Br Nababan. Sementara terduga pelaku adalah Nenok Simanjuntak.
Ada empat anggota Polsek Medan Area yang melakukan olah TKP. Mereka adalah Iptu R Ginting, Aiptu R Siahaan, Aipda P Pasaribu, dan Bripka Daniel Julian.
Mereka berempat datang ke lokasi pada Kamis (28/1/2021) sekitar pukul 11.00 WIB. Setibanya di lokasi, mereka menemukan karung berisi potongan tubuh banyak kucing seperti yang dilaporkan oleh Sonia.
Selanjutnya, mereka mengamankan karung tersebut sebagai barang bukti. Sedangkan Sonia diarahkan untuk membuat pengaduan ke Polsek Medan Area.
Sebelumnya diberitakan, jagat media sosial dibuat gempar oleh kabar tentang adanya pembunuhan sadis terhadap kucing-kucing di Kota Medan. Kucing-kucing dikuliti hidup-hidup, dipotong kepalanya, dan dagingnya dijual ke pasar.
Kabar tersebut dibagikan oleh akun Instagram @soniarizkikarai pada Rabu (27/1/2021). Terbongkarnya kasus ini bermula dari pemilik akun yang mengaku kehilangan kucingnya yang bernama Tayo.
Diceritakannya, Tayo sudah hilang sejak tiga hari yang lalu. Si pemilik, Sonia Rizkika Rai, sudah mencari ke sana-sini namun tak juga menemukan kucingnya.
“Akhirnya ada yang liat kucing saya dimasukkan ke goni sama orang yang katanya udah sering ngambilin kucing untuk dibunuh lalu dijual dagingnya dengan per kg 70.000,” tulisnya.
Setelah mengetahui kucingnya dibunuh, Sonia lantas mendatangi rumah si pelaku, yang ia sebut berinisial A, bersama seorang perempuan yang ia sapa dengan Bu Wulan. Ia dan Wulan sempat kesulitan mencari rumah A, sebelum akhirnya diberitahu oleh seorang anak kecil.
Setelah cekcok dengan tetangga pelaku, Sonia diberitahu bahwa ada goni berisikan potongan daging. Pelaku sempat berbohong dengan mengatakan bahwa daging dalam karung itu adalah daging anjing. Namun setelah dibuka, ternyata goni tersebut berisi banyak kepala kucing.
Sonia langsung menangis begitu tahu bahwa salah satu kepala kucing dalam goni itu adalah kepala kucing piaraannya. Tak cuma itu, ada juga kepala kucing yang ia ketahui tengah bunting.
“Ibu wulan yang ada di gambar ngeliat ada goni dan pas ditanyak jawaban mereka itu anjing, tapi buk wulan izin bukak dan setelah membuka nya kami melihat banyak kepala kucing bahkan kucing yang sedang hamil juga ada, dan setelah itu saya lemas gabisa sambil nangis, lalu buk wulan bilang “nia ini ada kepala tayo” saya pun tak sanggup lagi berdiri dan menangis sejadi jadinya,” kisahnya.
Di tengah-tengah tangisnya, seorang pria kemudian menghampiri Sonia dan Wulan sambil marah.
“Bising katanya. Dia maki maki kami juga ditempat dan sempat hampir adu tangan sama buk wulan, dan dia bilang kalau saya ngomong lagi dia bakal ludahi muka saya,” kata Sonia.
Tak terima atas apa yang menimpa kucingnya, Sonia lantas sudah melapor ke banyak orang, termasuk kepada pihak kepolisian. Namun, reaksi polisi justru berkebalikan dari ekspektasinya.
Saya udah bawak kepala kucing saya sebagai bukti ke polsek tapi sampai di polsek polisinya gatau pasal tentang kucing dan abis itu mereka ketawa ketawa gajelas. Ga lama kemudian saya dipanggil masuk ke dalam polsek dan ditanyain dan akhirnya mereka nyuruh saya ke polsek satunya lagi karena mereka bilang itu bukan daerah mereka,” katanya.
Sampai keesokan harinya, Sonia masih tidak percaya bahkan kucingnya ikut menjadi korban kebiadaban pelaku. Apalagi, sulit membedakan kepala kucing yang sudah mati, apalagi sudah dikuliti.
“Kepala kucing biasa sama kucing persia biasa beda, apa lagi tayo bigbone yang badannya besar, dan diantara kepala kepala disitu tadi semua kecil kecil kecui satu , dan kemungkinan besar itu kepala tayo,” tulisnya. **prc4
sumber: indozone.com