Karena Abai Peringatan Dini, Flu Spanyol Renggut 50-100 Juta Jiwa

Ahad, 22 Maret 2020

PELITARIAU, Spanyol - Nasib malang, meskipun tak tentu, kerap menjadi kawan baik seniman. Penyair Amir Hamzah tewas dalam huru-hara sosial di Sumatra selepas kemerdekaan. Vincent van Gogh membawa diri dalam depresinya yang dalam. Sementara pelukis Rembrandt yang pernah bergelimang harta mati dalam kepapaan dan kesendirian. Pelukis masyhur Austria di awal abad ke-20, Egon Schiele, juga bukan pengecualian.

Perang Dunia I meletus. Schiele pun harus ikut wajib militer. Untunglah, seorang perwira Austria yang paham seni menyelamatkannya. Saat prajurit lain harus bertempur di garis depan, Schiele mendapat kompensasi kerja administrasi dan persetujuan tawanan. Selama perang berkecamuk, ia tetap bisa bekerja sambil lalu.


Saat peralihan titik akhir pada 1918, Schiele ketiban pulung. Ia diizinkan kembali ke Wina dan menggelar beberapa pameran. Meski hanya sedang menggila, hampir semua lukisannya terjual saat itu. Dengan keuntungan dari penjualan lukisan, ia lalu mengajak Edith Harms, sang istri, pindah ke rumah yang lebih bagus.


Pada pertengahan tahun itu, Schiele mulai mengerjakan lukisan yang kelak dikenang sebagai salah satu mahakaryanya. Keluarga, nama lukisan itu, adalah potret metaforik yang memuji Schiele menggambarkan eksistensi kreatifnya. Lukisan itu menampilkan sosok Schiele sendiri (lelaki yang menjadi simbol semangat hidup) membungkuk di belakang seorang perempuan (simbol wahana) dan bayi (simbol karya kreatif).


Siapa sangka saat lukisan itu hampir rampung, Edith juga sedang hamil. Maka itu banyak orang mengira Keluarga adalah gambaran keluarga impian Schiele. Tapi, siapa sangka juga, adalah pulung terakhir untuk Schiele.


Pada Oktober 1918, kompilasi Eropa mulai diluncurkan musim gugur, wabah influenza menerjang. Schiele dan Edith ikut-ikutan terjangkit. Hawa dingin dan kesulitan pasokan makanan gara-gara perang memperparah flu yang mereka derita. Schiele dan Edith tak mampu bertahan. Edith meninggal pada 28 Oktober dan Schiele Kembali mangkat tiga hari kemudian.


“Pada saat itu, walau dirundung duka dan menderita sakit, Schiele berhasil mencoba merampungkan lukisannya — potret yang dimiliki sendiri yang tak akan pernah terwujud. [...] Kematian jadi salah satu alasan lukisan The Familykaryanya kerap sebagai klaim bisu keganasan wabah flu 1918, ”tulis Laura Spinney, penulis Pale Rider: Flu Spanyol tahun 1918 dan Bagaimana Mengubah Dunia, di laman BBC.


Bukan Flu Biasa


Wabah influenza yang merebak pada tahun 1918 itu menyebabkan penyakit flu biasa. Orang-orang saat itu mengenalnya sebagai Flu Spanyol. Ia mendapat nama dari pemberitaan media massa Spanyol selama pandemi terjadi. Penyebab utama flu ini adalah virus influenza tipe A subtipe H1N1.


Virus Varian ini jauh lebih berbahaya daripada virus influenza yang sudah diketahui saat itu. Virus ini jauh lebih menantang karena mudah menular melalui udara sehingga bisa merebak ke wilayah yang luas dalam waktu singkat.


Sampai sekarang titik asal kemunculan virus Flu Spanyol masih belum bisa dipastikan. Kemungkinan pertama, virus ini mulai mewabah di kompleks militer Fort Riley, Amerika Serikat pada Maret 1918. Priyanto Wibowo dan kawan-kawan dalam Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda (2009) menyebut saat ini adalah laporan sekira 500 orang yang mencoba flu pneumonia. Pada akhir bulan disetujui meningkat hingga 700 orang dan 40 di disetujui meninggal.


Virus ini lalu menyebar ke Eropa kompilasi Amerika mengirim tentara ke medan Perang Dunia I.


“Penyebaran penyakit influenza ke Eropa ini dianggap sebagai gelombang pertama dari pandemi tersebut. Namun laporan lain yang mengatakan influenza H1N1-1918 ditemukan pertama kali di Eropa setelah diajukannya laporan influenza pada salah satu resimen tentara Amerika Serikat di Perancis dan Inggris, ”tulis Priyanto dan kawan-kawan (hlm. 34).


Dari sumber-sumber di zaman itu, ada pula yang menyatakan wabah Flu Spanyol bukan berasal dari Amerika. Sejarawan Ravando Lie, yang pernah mengulas tentang wabah ini untuk disetujui "mini-thesis" di Leiden University, menemukan laporan berbeda tentang sebuah surat kabar dalam negeri.


"Memang yang selama ini menjadi 'sejarah yang diterima' adalah wabah ini bermula dari Amerika. Tapi saya membaca laporan di harian Pewarta Soerabaia terbitan 1918, kompilasi saya membahas tentang Flu Spanyol di Hindia Belanda, dan wabah ini berasal dari Swedia atau Rusia, kemudian diputar Cina" , Jepang, hingga Asia Tenggara, "tutur Ravando seperti dilansir oleh Tirto, Senin (16/3/2020).


Situasi perang memang membuat sumber penyebaran virus ini tidak pernah jelas. Masing-masing negara yang dipindahkan menjadi permulaan pindah ditutup-nutupinya.


"Akar dari virus ini benar-benar tidak pernah jelas. Ini karena tantangan Perang Dunia I. Tiap negara terdispersi sebagai alasan mengapa tidak terlihat lemah," lanjut sejarawan yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Melbourne itu.


Meski episentrumnya masih sumir, tetap jelas itu H1N1 adalah virus ganas. Ketika terjadi pandemi, populasi dunia diperkirakan 1,7 miliar orang dan 60 persennya terjangkit virus ini. Perang Dunia I juga berkontribusi besar bagi penyebaran virus ini dengan cepat karena mobilisasi tentara dan penduduk dari satu tempat ke tempat lain.


Yang mengherankan, korban pandemi ini paling banyak berasal dari rentang umur 20-40 tahun — usia saat imunitas semestinya dalam kondisi prima. Jumlah pasien yang bertambah akibat pandemi influenza ini pun bervariasi. Dalam kurun Maret 1918-September 1919, ada yang menyebut 21 juta hingga kisaran 50-100 juta jiwa karena Flu Spanyol di seluruh dunia.


"Di era modern, jelas enggak ada penyakit yang tingkat kematian-nya setinggi Flu Spanyol. Jumlah korbannya lebih banyak daripada jumlah korban Perang Dunia I. Menurut berbagai sumber yang saya baca, hingga sekarang para epidemiologis berbahaya dari cacar, pes, dan kolera, ”ujar Ravando.


Menyerbu Hindia Belanda


Wabah Flu Spanyol merambah Hindia Belanda sejak gelombang pertama pandemi. Virus diambil oleh imigran Cina yang berangkat ke Hindia Belanda melalui Hongkong. Pada April 1918, konsul Belanda di Singapura bersurat kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda agar tidak menerima kapal-kapal dari Hongkong berlabuh di Batavia. Sebelumnya, konsul Belanda di Singapura telah menerima permohonan dari otoritas Inggris di Hongkong.


Hindia Belanda pun punya Peraturan Karantina yang diterbitkan di Staatblad van Nederlandsch Indie no. 277 tahun 1911. Peraturan tentang peraturan karantina kapal dan pelabuhan — juga kota — untuk menggantikan persebaran wabah kompilasi terjadi epidemi.


Sayangnya, mengingat itu tidak mendapat perhatian yang semestinya dari pemerintah kolonial. Maka itu protokol karantina juga tidak berjalan efektif. Kapal-kapal dari luar negeri tetap bebas di pelabuhan-pelabuhan Hindia Belanda. Begitu pun hukuman yang diizinkan masuk kota. Pemulihan, Hindia Belanda dihidupkan dengan epidemi yang mengubah tiga bulan kemudian.


“Pada bulan Juli 1918, beberapa pasien mulai datang di rumah sakit di Hindia Belanda. Jumlah ini semakin meningkat pada bulan Agustus dan September, meskipun rasio perbandingan dengan jumlah korban wabah-wabah lokal yang terjadi sebelumnya masih dipertimbangkan rendah, ”tulis Priyanto dan kawan-kawan (hlm. 95).


Seperti bola salju, korban wabah Flu Spanyol terus bertambah selama berganti bulan. Wabah menyebar jalur transportasi utama. Kota-kota pelabuhan yang menjadi tempat transit di luar negeri adalah yang paling dulu terkontaminasi. Virus lalu menyebar ke daerah pedalaman di sekitar jalur kereta api sesuai dengan pergerakan manusianya.


Siddharth Chandra dalam “Kematian akibat Pandemi Influenza 1918-19 di Indonesia” yang diterbitkan di jurnal Population Studies (2013) mengutip epidemi Flu Spanyol pecah dalam dua gelombang utama. Gelombang pertama terjadi pada Juni-Juli 1918 di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatra. Begitu pula yang terjadi di pantai barat Kalimantan.


Gelombang kedua, yang disebut-sebut lebih cepat dan luas penyebarannya, mulai pecah pada Oktober hingga Desember. Epidemi skala kecil juga terjadi di kawasan timur Hindia Belanda hingga Februari 1919.


Karena di masa itu belum ada sensus, jumlah orang yang terjangkit atau menjadi korban sulit dipastikan. Chandra mengutip jumlah perkiraan korban di setiap daerah sangat bervariasi, dihitung antara jumlahnya hingga belasan persen dari total populasi lokal. Lima daerah dengan tingkat kematian tertinggi — lebih dari 15 persen dari total partisipasi — akibat pandemi Flu Spanyol yang menerima di Madura, Banten, Kediri, Surabaya, dan Cirebon.


Yang terang, jumlah orang yang terjangkit membuat para dokter rumah sakit yang ada saat itu kebanjiran pasien. Di Makassar, misalnya, seorang dokter meminta 800 pasien influenza. Rumah sakit sampai tiba waktunya.


Meski kemudian wabah mereda pada pertengahan 1919, pemerintah kolonial jelas gagap dalam membaca percakapan. Priyanto dan kawan-kawan menyebut laporan-laporan dari daerah yang masuk ke Algemeene Secretarie sering kali baru mendapat tanggapan setelah melewati beberapa bulan. Gara-gara itu langkah demi langkah untuk memindahkan virus H1N1 jadi terhambat.


Percakapan itu diperparah dengan pengetahuan minimal tentang zaman itu terhadap jenis penyakit dan virus yang mereka hadapi. Tak heran jika otoritas kesehatan di tiap daerah akhirnya menyetujui sendiri-sendiri sementara salah kaprah.


“Para dokter kolonial mempertimbangkan penyakit flu sama dengan malaria, tanpa membuktikan lebih lanjut melalui proses penelitian laboratorium. Candu juga berperan sebagai obat sementara untuk mengurangi rasa sakit akibat lumpuhnya ketahanan tubuh setelah terserang virus influenza, ”kata Priyanto dan kawan-kawan (hlm. 202-203)


Kegagapan pemerintah kolonial mengundang virus Serbuan Flu Spanyol juga ditemukan Ravando dalam penelitiannya. Ia bahkan mengatakan tidak menentang protokoler untuk menghindari wabah itu sampai satu tahun setelah menjangkiti Hindia Belanda.


"Pemerintah kolonial sangat lambat menerima Flu Spanyol. Di negara lain jelas sudah ada banyak korban. Tapi enggak ada yang menentang atau protokoler yang jelas dalam menentang pandemi tersebut. Di Volksraad (dipanggil semu Hindia Belanda), cuma Abdul Rivaiyang mengkritik karena membutuhkan negara," "pungkas Ravando.


Influenza Ordonantie — protokol resmi untuk mengatasi epidemi influenza di masa depan — akhirnya disahkan pada Oktober 1920 setelah melalui pembaharuan panjang di pemerintahan dan perubahan. ** prc4