DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Sedang Puasa, Angkat Kelapa Masuk Ambung

Keringat Pak Bas Mengalir Deras

Editor : Jumat,18 Juli 2014 | 01:46:00 WIB
Keringat Pak Bas Mengalir Deras Ket Foto : Kebun Kelapa Tua

Puas, Angkat Kelapa Masuk Ambung
Keringat Pak Bas Mengalir Deras

Haus dan lapar tidak terasa, setiap hembusan nafas menjadi pahala apapun perbuatan baik bernilai ibadah disisi allah berkali-kali lipat di bulan ramadhan. ibadah inilah yang dikejar oleh Bashori berusia 50 tahun yang sudah lama tinggal Desa Harapan Tani Kecamatan Kempasjaya Kabupaten Indragiri Hilir-Riau, sebagai petani kelapa.

Selama bulan Ramadhan Bashori bekerja, petani kelapa ini akrab di panggil Pak Bas yang rutin menjalankan ibadah puasa namun juga menjalankan aktifitasnya bekerja dikebun kelapa di bulan puasa. Dengan semangat bekerja, meski menguras tenaga Pak Bas ini tetap berpuasa. Baginya, bekerja sambil berpuasa akan banyak mendapat berkah dan rezeki dari Tuhan.

Siang itu, Kamis (17/07/2014) di balik dedauan berlindung dari teringknya panas pak Bas, sedang semangatnya bekerja menaikan kelapa keatas ambung (pengangkut buah,red).
 
Sesekali, Pak Bas menyapu peluh yang deras mengucur dengan kain bajunya,  pori-pori tubuhnya bak seperti mata air, namun tak menyurutkan niatnya untuk mengisi ambungnya hingga penuh untuk kemudian ia kumpulkan disuatu tempat untuk melakukan pemisaha kelapa dengan sabut (Solak).

Pak Bas bercerita, banyak faedah yang ia dapat ketika bekerja sambil berpuasa. “Bekerja sambil puasa akan mengirit biaya. Berpuasa juga akan meningkatkan konsentrasi bekerja, karena tak memikirkan makan dan minum,” ujarnya sambil terkekeh.

Ia juga mengatakan, cara bekerja pada saat berpuasa berbeda dengan kerja yang dilakoninya pada hari biasa. Menurutnya, untuk menjaga stamina dan agar tak membatalkan puasa, dia harus sering-sering istirahat.

Bapak tiga anak ini mengatakan, pekerjaan sebagai petani kelapa ini sudah ia lakoni sejak berumur belasan tahun. Meskipun pada saat ini harga kelapa sedang anjlok, ia mengaku tak punya pilihan lain selain berkebun kelapa untuk memenuhi kebutuhan ia dan keluarganya. “Mau tak mau kami petani kelapa disini tetap memanen buah kelapa kami untuk kami jual, meskipun kita tahu saat ini harganya yang sangat tidak sesuai,” keluhnya.

“Kami berharap ada kebijakan dari Pemerintah untuk dapat meperhatikan lagi nasib kami petani kelapa, sebab semakin hari harganya semakin memprihatinkan. Padahal kelapa ini menjadi penopang biaya kehidupan kami sehari-hari. Jika hal ini akan terus dibiarkan, nasib para petani seperti kami ini terancam kelaparan,” ujar Pak Bas.

Yah, gonjang-ganjing persoalan harga kelapa saat ini memang memberikan pengaruh yang besar bagi petani seperti Bashori dan lainnya, mengingat sebagian masyarakat di indragiri Hilir adalah petani kelapa. Sebagai petani mereka tentu tidak bisa berbuat banyak menghadapi kondisi ini, dan hanya berharap ada upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mendongkrak harga kelapa.

Upaya ini tentunya bukan sekedar memantau pergerakan harga kopra setiap dan pernyataan semua bahwa pemerintah akan berusaha agar harga kelapa tidak jatuh tetapi tindakan lain yang nyata sehingga dapat menghasilkan solusi yang menguntungkan bagi petani.

Alasan klasik yang sering dilontarkn pemerintah adalah harga kopra mengikuti harga minyak kelapa dunia sehingga pemerintah tidak dapat melakukan intervensi untuk memperbaikinya. Saran yang selalu disampaikan kepada petani adalah agar kelapa tidak hanya dijadikan kopra tapi diolah dalam bentuk lain.

Hanya sebatas ini usaha pemerintah untuk membantu masyarakatnya keluar dari himpitan ekonomi. Sangat disayangkan memang karena begitu banyak orang yang menggantungkan kehidupannya dari kelapa ini. Tidak ada terobosan lain yang dilakukan untuk memperbaiki tata niaga kelapa sehingga memberikan manfaat kepada para petani.(PR- CR02)

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved