DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Pemprov Sulsel Belajar Budidaya Sagu ke Meranti

Editor : Rabu,22 April 2015 | 16:40:05 WIB
Pemprov Sulsel Belajar Budidaya Sagu ke Meranti Ket Foto :

PELITARIAU, Selatpanjang - Sekitar 25 orang turun dari kempang penyeberangan di Desa Tanjung Darul Takzim. Sebanyak 10 orang berwajah tak asing yang terdiri dari pejabat dan pegawai di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepulauan Meranti bersama kelompok tani.

Namun 15 orang lainnya sangat asing. Bahkan saat berbicara memiliki logat yang tak sama dengan 10 orang yang tadi.

Ternyata 15 orang tersebut merupakan tamu dari Dishutbun Kepulauan Meranti dari Sulawesi Selatan. Mereka ingin belajar bagaimana membudidayakan sagu dan pengolahannya.

Mereka turun dari kempang menuju ke kebun dan kilang sagu milik amir di Desa Tanjung Darul Takzim. Disana Amir sang pemilik yang sudah bisa memproduksi sagu sampai menghasilkan tepung sagu menyambut rombongan dan menunjukkan bagaimana sagu mulai ditanam sampai diolah menjadi tepung sagu.

Dengan mengajak penakar dari empat Kabupaten, Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) belajar bagaimana membudidaya sagu ke Kepulauan Meranti. Sebab di sana sagu bukan di tanam dari bibit, tapi tumbuh sendiri menjadi hutan sagu.

Ketua Rombongan Pemprov Sulsel, M Syarir yang juga merupakan Kepala Seksi (Kasi) Pembenihan Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan mengaku bahwa dari informasi yang mereka dapat bahwa sagu di Meranti dibangun secara budidaya. Makanya mereka ingin melihat dari dekat bagaimana membudidayakan sagu-sagu yang ada di wilayah Provinsi Sulsel.

Dari 24 Kabupaten/Kota di Sulsel, M Syarir menambahkan potensi sagu terdapat di empat Kabupaten/Kota di Sulsel diantaranya Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan Kota Palopo. Namun disana sagu belum menjadi komoditas unggulan.

"Makanya kita mau menjadikan sagu sebagai komoditas unggulan. Sebab sagu berpotensi untuk dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat nantinya," terangnya.

Apalagi, tambahnya industri hilir atau berbagai jenis makanan dari sagu sudah sangat diminati dan bernilai ekonomi tinggi. Namun hal itu belum sejalan dengan produksi hulu dari sagu itu sendiri.

"Harga dan penyajian berbagai jenis makanan berbahan sagu di Sulsel sudah high class dan sudah disajikan di restoran khusus. Harganya pun paling murah Rp 25 ribu per porsi makanan. Namun harga untuk satu batang sagu hanya bernilai Rp 100 ribu," katanya.

Sementara di Akui M Syarir dalam mengolah sagu di Sulsel, masih dilakukan secara manual. Belum ada kilang seperti Meranti.

"Makanya kami sebanyak 15 orang yang terdiri dari 10 orang penakar dari 4 Kabupaten dan 5 orang dari Pemprov ingin melihat bagaimana budidaya dan pengolahan sagu di Kepulauan Meranti.
 
Kabid Perkebunan Suparna didampingi Kasi Produksi Tanaman semusim dan tahunan, Sudarmadi SP yang mendampingi tamu dari Silsel tersebut mengaku bahwa dengan kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa Meranti menjadi daerah yang sudah berhasil mengembangkan sagu.

"Ini menjadi penghargaan yang tinggi bagi kita. Selain kita ajak melihat kebun sagu, kilang sagu, juga kita tunjukkan bagaimana proses pembibitan yang kita lakukan," terang Suparna.***


 

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved