DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Pendamping PKH di Meranti Ini Hampir Tiga Tahun Berjuang Melawan Berbagai Penyakit

Editor :Herman Jumat,23 Maret 2018 | 20:03:02 WIB
Pendamping PKH di Meranti Ini Hampir Tiga Tahun Berjuang Melawan Berbagai Penyakit Ket Foto : Dedi saat di rawat di rumah sakit

PELITARIAU, Meranti - Dedi (28 tahun), warga asal Desa Kuala Merbau, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, yang sudah hampir 3 tahun melawan penyakit yang dideritanya sakit hingga kini.Pria lulusan S1 di UIN Suska Riau itu, sejak 2014 lalu berkerja sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di wilayah Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dedi saat ini tengah menderita sakit yang begitu parah. Dia terus saja berjuang melawan penyakit yang tak kunjung sembuh dari dirinya itu.Dewi Sartika, adik kandung Dedi, Kamis (22/3/2018) siang, menceritakan bahwa abang mengalami sakit tersebut sudah hampir 3 tahun lalu.

Awalnya, kata Dewi, abangnya itu mengalami sakit kelenjar dan dilakukan operasi kecil di RSUD Selatpanjang. Sesudah itu, kondisinya tak kunjung membaik, namun Dedi malah merasakan ada bengkak dibagian dalam perutnya.

"Waktu itu, walaupun sakit abang tetap berkerja. Maklumlah, kondisi keluarga kami sangat sederhana. Abang saya harus mencari uang untuk membiayai kuliah saya," cerita Dewi yang saat ini sedang tugas magang di kantor instansi Pemkab Meranti.

Saat awal dibawa di RSUD, lanjut dia menceritakan, dokter mengatakan Dedi terkena sakit usus buntu dan terpaksa di operasi.Pengobatan terus saja berlanjut. Bahkan,  setelah menjalani kontrol di RSUD, Dedi diagnosa mengidap getah bening.

"Kemudian dari hasil diagnosa terbaru, kata dokter abang saya menderita sakit lain pula. Kalau tidak keliru nama semacam Kikuci. Tidak hanya itu, yang terakhir dia malah di diagnosa mengidap tumor ganas pula," ungkapnya.

Dia bersama ayah dan ibu serta keluarga yang lainnya sangat heran melihat penyakit yang diderita Dedi. Pasalnya, penyakit yang ada di perut abangnya itu malah sudah memakan darahnya secara terus-menerus.

"Kata dokter, kalau penyakit itu di angkat akan ada syaraf yang kena dan mengakibatkan cacat seumur hidup," kata Dewi yang terlihat meneteskan air mata karena sedih memikirkan nasib yang dialami abangnya.

Karena kondisinya yang kian memburuk, Dedi sudah dua kali di rujuk ke RSUD,Keluarganya Dedi sangat membutuhkan biaya besar untuk mengobati penyakit itu. Dia berharap dengan ikhlas bantuan dari masyarakat.

Sementara itu, istrinya, Fitria (25 tahun) hanya sebagai ibu rumah tangga alias tidak berkerja. Mereka baru saja setahun membina rumah tangga. Dedi dan Fitria menikah pada tahun 2017 lalu.

Saat ini pasien masih berada di Ruang Kenanga Kamar nomor 07 RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru. Ia dikabarkan kekurangan darah golongan AB.Perawatan Dedi tentunya membutuhkan waktu lama dan biaya pengobatan, sedangkan keuangannya tidak memadai.

Sementara itu, tabungannya telah terkuras habis untuk berobat selama ini. Keluarganya tentu sangat membutuhkan uluran tangan yang ikhlas membantu.

"Kami dari keluarga tidak mampu. Rumah kami pun didapat dari bantuan pemerintah. Dulunya, abang saya juga berkerja serabutan sebagai buruh angkut barang di pelabuhan," ucap Dewi.

Bagi masyarakat yang ingin membantu meringankan beban keluarga Dedi, bisa menyumbangkan donasinya ke Rekening BRI 017101011607501 atas nama Ardalina selaku Kooordinator PKH Kabupaten Kepulauan Meranti. Atau bisa menghubungi langsung Hp/WA : 085264929040 saudari Ardalina.**rls/adit

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved