DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Nyaris Bentrok Sesama Warga Mandau Kab.Bengkalis, Ini Reaksi Tokoh Dan Masyarakat Riau

Editor :Herman Minggu,04 Maret 2018 | 09:56:15 WIB
Nyaris Bentrok Sesama Warga Mandau Kab.Bengkalis, Ini Reaksi Tokoh Dan Masyarakat Riau Ket Foto :

PELITARIAU, Pekanbaru - Retaknya rasa persaudaraan diantara masyarakat mandau Kabupaten Bengkalis akibat perbedaan perspektif terkait keberagaman suku dan budaya akhirnya nyaris bentrok di Rangau Duri, Hari ini 3/3/2018. 

Ketegangan ini bermula saat masyarakat mandau yang bersuku Batak mendirikan bangunan rumah adat Batak Toba ( Rumah bolon) di Rangau km 7 kecamatan mandau Kabupaten Bengkalis Riau. 

Keberagaman sebuah bangsa hendaknya selalu menjunjung nilai-nilai kebersamaan dan persatuan, yang konon negara indonesia merupakan negara dengan paham nasionalisme serta ideologi kebangsaan yang berazaskan pancasila dengan semboyan kebhinnekaan sesuai UUD 1945 seharusnya dapat berdiri berdampingan. 

Namun Dari peristiwa intoleran yang terjadi di Rangau km 7 kecamatan mandau ini, telah membuat mirisnya perasaan masyarakat Riau yang selama ini hidup rukun dan damai antar sesama suku dan agama. 

Penuturan ketua Adat Melayu Riau kecamatan mandau, Datuk Zulfikar Indra terkait peristiwa bentrok tersebut kepada awak media mengatakan bahwa pihaknya memang merasa keberatan atas berdirinya rumah adat batak Toba di Rangau km 7 kecamatan mandau itu, apalagi dengan mengadakan acara peresmian secara adat batak di lokasi bangunan rumah adat pihaknya sangat menentang dengan alasan karena Rangau atau kecamatan mandau adalah bumi melayu. 

"Atas berdirinya bangunan rumah adat batak ini kita masyarakat adat melayu telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat batak, termasuk IKBR, dan kita minta supaya tidak ada acara peresmian dilokasi rumah adat batak itu, karena Riau ini adalah bumi melayu, "Katanya. 

Zulfikar mengaku Sebelumnya  juga pihaknya telah menyampaikan perihal ini kepada LAMR provinsi di Pekanbaru, dan ternyata LAMR provinsi juga tidak setuju dengan adanya rumah adat batak dan peresmian tersebut. 

"Selain pertemuan di Duri kecamatan mandau, kami juga sudah beberapa kali menyampaikan ini ke LAMR provinsi, dan LAMR provinsi juga menolak adanya acara peresmian rumah adat batak itu,"jelasnya. 

Menurutnya penolakan pihaknya adalah dengan alasan yang jelas, yaitu karena Riau adalah bumi melayu dan tidak dibenarkan adanya acara peresmian rumah adat batak. 

"Kalau acara adat batak boleh, seperti selama ini kami tidak ada masalah dengan acara adat batak di mandau ini, tetapi silakan ditempat adat, seperti sopo khusus adat orang Batak, bukan didepan rumah, apalagi acara peresmian rumah adat batak," Katanya. 

Zulfikar membantah bahwa tindakan melarang peresmian rumah adat batak oleh pihaknya dimaksudkan sebagai bentuk sikap yang anti terhadap suku dan budaya lain, namun hal ini dikatakannya hanya lah sebagai bentuk menjung-jung philosofi dimana tanah di pijak disitu langit dijunjung. 

"Kita tidak anti suku dan budaya lain disini, kita memang NKRI tapi ini kan bumi melayu jadi dimana tanah dipijak disitu langit kita jung-jung, biarkan lah setiap daerah itu punya kearipan tersendiri," imbuhnya. 

Atas kejadian ini, salah satu tokoh dan masyarakat suku minang yang telah lama hidup di Pekanbaru provinsi Riau, Fachri Yasin kepada awak media mengatakan bahwa dirinya selaku suku minang Sumatera Barat sungguh prihatin dan miris. 

"Apa salahnya orang Batak membangun rumah adat batak atau meresmikan rumah adat batak di Riau ini, kita harus bangga dengan Keberagaman suku dan budaya kita di negeri ini, itu lah kekayaan bangsa kita,"kata salah satu dosen di universitas ternama Riau ini. 

Menurut Fachri, semua suku dan budaya yang ada di Riau, apakah itu Batak, Jawa, Minang, Minahasa dan lain sebagainya boleh saja melakukan itu karena kita adalah satu dalam bingkai NKRI. 

"Dimana masalahnya kalau dibangun rumah adat atau acara peresmian rumah adat? Justru itu lah kekayaan bangsa kita, yang harus kita jaga kelestariannya," Katanya. 

Menurutnya jika Ada reaksi masyarakat adat melayu yang melarang peresmian rumah adat batak di mandau sebagaimana diberitakan, sebaiknya pemerintah segera bertindak untuk menyelesaikan nya karena ini menyangkut persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. 

"Pemerintah harus segera ambil sikap untuk mencari solusi dan menghimbau masyarakat untuk saling menghormati satu sama lain dan terus memupuk rasa persatuan," Jelasnya. **rls/adit

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved