DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Puisi "Balada Atan Lawa dan Chen Hwa, Mengukir Cinta Tanpa Prasangka"

Editor :Ramdana Selasa,31 Oktober 2017 | 12:11:37 WIB
Puisi Ket Foto : Fakhrunnas MA Jabbar

atan lawa lahir kala purnama menjuntai di pantai
emak melayu ayah perantau  jawa bercinta di usia belia
teman sepengajian di kampung nelayan
saling cinta tanpa prasangka

chen hwa bermata sipit, hidung mangir dan kulit putih melepak
terlahir emak tionghoa ayah batak
saling cinta tak diterima keluarga
chen hwa kecil diberi marga tapi kurang disuka

kini atan lawa merajut kasih dengan chen hwa
cinta terdedah tersebab suka saling jumpa sepulang sekolah bersama-sama
begitulah cinta yang tak mudah tak disuka keluarga
mengapa ada prasangka

padahal bumi kita sama
air disauk dari sungai sama
tak ada beda
nasi dimakan dari sawah sama
udara dihirup dari pucuk daun dan untai embun
di kampung sama
tapi mengapa selalu ada prasangka bila cinta menjelma jadi cita
padahal hubungan darah tak mudah dibelah-belah

atan lawa memacu laju kereta cinta membawa chen hwa penuh rahasia
segala rintang dia tantang
begitu pula chen hwa yang tenang
memacu cinta penuh gelora
tak peduli larangan orangtua dan sanak keluarga
sepasang kekasih itu semakin dekat membuang jauh segala prasangka

atan lawa pun jadi berang
kala keluarga chen hwa menantang hubungan
dengan segenap tenaga dan daya
hati bertemu hati menjadi cinta sejati
chen hwa pun kian terpesona
tak mudah digoyah oleh sesiapa

maka berujarlah atan lawa pada keluarga chen hwa
kala  paman chen hwa meminta akhiri kisah cinta 
tersebab tak sepadan darah dan keturunan
pantun melayu lama pun diucap lincah:

ketuku batang ketakal
dua-dua keladi moyang
sesuku kita seasal
sama-sama senenek moyang

atan lawa terus berhujjah
chen hwa tak mungkin ditinggal pergi
tak boleh ada prasangka
di hamparan bumi anugerah tuhan
tak boleh ada diskriminasi atas nama suku dan keturunan, agama dan darah
apalagi beda warna kulit atau gelombang rambut yang terbawa sejak tangus pertama

chen hwa pun begitu bersetuju tanpa ragu
mestinya semua kita bersatu tak hirau nasib dan perjodogan
kita perlu bersatu
perlu bersama tanpa prasangka
saling hormat dan menghargai
demi negeri
demi indonesia.

Oleh: Fakhrunnas MA Jabbar

Pekanbaru, 28 oktober 2017

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved