DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Mengenang 40 Hari Patih Laman, Tutup Usia 101 Tahun

Editor :zulpen Kamis,08 Juni 2017 | 14:17:03 WIB
Mengenang 40 Hari Patih Laman,  Tutup Usia 101 Tahun Ket Foto : Patih Laman tokoh suku Tuha Talang Mamak di Kabupaten Indragiri hulu (Inhu) Riau, Patih Lama peraih Piala Kalpataru, penghargaan kepadanya atas keberhasilannya menjaga hutan

RIAU memiliki sejarah panjang dengan Kalpataru. Anugerah tertinggi yang diberikan negara untuk para penyelamat lingkungan ini, pernah diberikan kepada Kepala Suku Talang Mamak Indragiri Hulu, Riau, Patih Laman. Patih mendapatkan Kalpataru karena perjuangannya menentang kerusakan hutan dan perluasan perkebunan kelapa sawit di Rakit Kulim, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Indragiri Hulu.

Sayangnya, Patih Laman yang meninggal dunia pada 15 Mei 2017 lalu dalam umur 101 tahun, tampaknya bersedih di alam kubur. Rohnya, mungkin belum bisa tenang, karena bumi tempat dia mencari makan dan berinteraksi dengan alam, makin punahranah diterjang derasnya arus okupasi lahan perkebunan kelapa sawit. Hutan Desa Rakit Kulim yang dulunya hijau dan menjadi tempat anak cucunya bermukim, kini telah berubah menjadi hutan kelapa sawit. Tak ada lagi satwa di rimba, tak ada lagi sungai manganak dan tak ada lagi suara alam. Laman dan Kalpataru terkalahkan oleh kejamnya uang dan kebijakan.

Gubuk kayu yang dulu tempat tinggalnya, kini tinggal kerangka. Tidak ada lagi dinding atau atapnya. Lantai gubuk pun hanya tinggal potongan-potongan batang kayu berdiameter kecil berjejer tanpa papan di atasnya. Lokasi di sekeliling gubuk sudah terang benderang. Hutan dengan pohon-pohon besar yang dahulu memenuhi halaman gubuk sudah tidak kelihatan lagi dan berganti dengan pohon-pohon kelapa sawit yang siap dipanen. Pemandangan di depan gubuk menjadi sangat kontras tatkala bunga berwarna kuning yang ditanam Patih Laman sedang mekar-mekarnya.

Dulu, di pondok kayu itu, Patih Laman melakukan "protes keras" atas perusakan hutan adat untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Laman melakukan aksi semadi di gubuk hutan itu sendirian selama tiga pekan. Hanya saja, tubuh tuanya sudah tidak bisa lagi bertahan dan Laman pun jatuh sakit. Di tengah sakitnya, Laman berangkat ke Pekanbaru untuk mencari dukungan wartawan dan lembaga swadaya masyarakat pemerhati lingkungan untuk mengembalikan Piala Kalpataru. Namun, ada perbedaan pendapat di kalangan LSM pemerhati lingkungan sehingga pengembalian Kalpataru itu batal.

Yang pasti, protes Laman tidak didengar. Hutan Talang Mamak sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Hutan di sekeliling gubuk yang kini sudah ditanami kelapa sawit itu adalah sebagian kecil dari hutan adat yang tersisa milik suku Talang Mamak yang semakin tidak terkendali berubah menjadi kebun sawit. "Lebih baik saya mati ditembak bila hutan kami yang tersisa ini pun dijadikan kebun kelapa sawit," ujar Laman dengan nada sendu dan meneteskan air mata ketika itu.

Siapa Patih Laman? Patih Laman adalah pemimpin tertinggi Suku Tuha Talang Mamak di Inhu. Tahun 2003, Patih Laman adalah salah seorang penerima anugerah pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru, dari Presiden Megawati. Kalpataru itu adalah penghargaan atas kerja keras suku Talang Mamak melestarikan empat hutan adatnya, yakni hutan adat Panyabungan dan Panguanan, Sungai Tunu, Durian Cacar serta hutan adat Kelumbuk Tinggi Baner yang luasnya hanya berkisar 1.800 hektar.

Hutan itu dahulunya sangat bagus dan indah, dipenuhi pepohonan alam, tinggi menjulang nan asri. Namun, kini nyaris tidak ada lagi sisa keasrian hutan yang pernah mendapat anugerah Kalpataru itu. Pemandangan di sana kini tidak ubahnya seperti lokasi perusahaan perkebunan kelapa sawit. Di mana-mana yang terlihat hanya kelapa sawit dan kelapa sawit. Kalaupun ada pemandangan berbeda, sesekali terlihat pepohonan karet yang tidak tertata rapi. Tidak tampak lagi pepohonan besar, kecuali satu dua pohon sialang yang masih dibiarkan hidup tinggi menjulang di hamparan pepohonan sawit, milik PT Selantai Agro Lestari yang bahkan membuat perumahan dan perkantoran di tengah-tengah hutan adat itu.

Hutan adat Talang Mamak memang nyaris tinggal nama saja. Padahal, pada tahun 2006, hutan itu sempat diagendakan untuk diperkuat payung hukumnya melalui peraturan daerah. Bupati Indragiri Hilir dan Ketua DPRD Inhu bahkan sempat menandatangani Surat Kesepakatan Bersama (SKB) Nomor 31 Tahun 2006 tentang Hutan Adat Suku Talang Mamak. Sayangnya, sejak SKB itu ditandatangani, tidak pernah ada lagi kelanjutan peraturan daerah yang sempat direncanakan itu. Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu pun seakan tidak peduli dengan kerusakan itu.

Patih Gading, cucu kandung Patih Laman yang kini menjadi penerus kepala suku Talang Mamak, mengatakan, hutan Talang Mamak telah menjadi korban kerakusan orang-orang yang tidak memikirkan lingkungan. Ada oknum Talang Mamak sendiri yang dianggap sebagai biang keladi penjualan lahan-lahan hutan kepada orang-orang luar. "Kami sudah melaporkan kasus penjualan hutan Talang Mamak itu kepada polisi. Hutan kami telah binasa. Hutan kami telah hancur. Sayangnya belum ada kelanjutan kasus itu. Saya berharap orang-orang itu dapat dihukum," tutur Laman ketika itu.

Patih Laman lahir di Rakit Kulim, Inhu, tahun 1916. Dia memang sangat dihormati warga dan anak memenakannya. Selain arif dan bijaksana, dia juga sangat memahami adat istiadat dan sejarah panjang suku Talang. Selain fasih berbahasa Melayu dan Minang, dia juga mengajar anak anak dan kemenakannya menggunakan bahasa Indonesia. Dia sering diminta tampil dan bicara mengenai Suku Talang, sampai ke luar Riau. Dia juga menguasai mantra-mantra Talang serta tunjuk ajar untuk anak kemenakan yang berasal dari ajaran “Langkah Lama” atau agama Islam yang dianutnya.

Dia sering bersyukur kehadirat Allah SWT, karena diberi umur panjang dan kesehatan yang tidak pernah benar benar memburuk. Dia diberi umur panjang sampai 100 tahun lebih, sehingga dia bisa mengikuti perkembangan suku Talang serta anak kemenakannya yang sebagiannya masih terisolir dan belum serius mendapatkan perhatian dari pemerintah. Namun kadang kadang dia juga bersedih, kenapa masih ada manusia yang selalu tidak puas, serakah, mengambil hak yang bukan miliknya bahkan tega teganya menghancurkan alam yang sejak Indragiri dipimpin oleh Sultan, selalu dijaga oleh nenek moyangnya.

Kini Patih telah tiada. Tapi Piala Kalpataru, masih ada di salah satu sudut rumah Patih Gading, cucunya. Kalpataru yang hanya bisa diam, ketika hutan hutan tak lagi ada. Selamat jalan Patih. Semoga rohmu bisa tenang di sisi Allah SWT, tanpa memikirkan hutan itu lagi. (R-Sky/Kps/Hln/DK)

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved