DOWNLOAD APP PELITARIAU.COM
  

HOT TOPIC

Ratap Talang

Editor :zulpen Kamis,08 Juni 2017 | 01:35:00 WIB
Ratap Talang Ket Foto : (Yvette Sfuhainart/saatchiart.com)

Oleh: H. Dheni Kurnia

Tompat bepijak nanlah toban
Tompat begantung nanlah putus
Tompat beminyak nanlah sogan
Tompat berhutan nanlah pupus
Aiii…

Tompat berhanyut nanlah surut
Tompat bedamar nanlah samar
Tompat bergayut nanlah kujut
Tompat benanar nanlah pudar
Aiii…

Engkau terbang jauh ke arasy
Bersama elang melangit tinggi
Memandang hutan pondok kami
Mengumbar senyum dari jauh
Kami tak kau sapa

Engkau hilang  di gelap malam
Bersama roh datuk nan sebatang
Menyapa nyalang anak bermain
Membiar api hangus membakar
Kami tinggal mengenang

Engkau mandi di batang peranap
Terbang jauh ke sungai mandau
Menari nari di puncak mahligai
Menambah rindu jantung hati
Kami tak kau ingat

Punahlah sudah segala yang ada
Hancurlah sudah segala tersisa
Tanah kami tak lagi menugal
Rimba kami tak lagi meluas
Rebung enggan menunas bunga

Bertahun kami menjaga batas
Di dingin malam di terik panas
Hancur hanya dalam sekejap
Tangan kalian terlalu kuat
Hati kalian rengkah terbakar

Di diri kami tinggal janji
Janji sialang kan berbuah madu
Janji gangsal tak berair keruh
Janji gawai bertambah gedang
Janji hutan berpagar batu

Lihatlah anak anak kami
Tak seperti selendang mayang
Telanjang dada menekuk hari
Melenggok simpang diasak orang
Belajar tidak berlaripun tak

Lihatlah hutan di ladang kami
Merajuk tak hendak berbunga lagi
Melapang seluas hamparan langit
Biji jatuh enggang tak mengutip
Datuk berlari berkeringat dingin

Lihatlah bujang wahab kami
Mengejar malam dengan betina
Mengasah taji di pondok orang
Menjual marwah segulung tembakau
Menggadai roh dengan talang

Aiii…
Tompat bepijak nanlah toban
Tompat begantung nanlah putus
Tompat beminyak nanlah sogan
Tompat berhutan nanlah pupus

Tompat berhanyut nanlah surut
Tompat bedamar nanlah samar
Tompat  bergayut nanlah kujut
Tompat  benanar nanlah pudar
Aiii…

Engkau berlari tak ingat jalan
Bersama hati jantung kami
Tinggalah hutan pondok tua
Mengenang lama rindu terasa
Kami hanya memaki dendam

Engkau hilang di simpang jauh
Bersama roh datuk temanggung
Senyummu memutih petanda lupa
Tinggalkan kami memakan janji
Kami perih engkau tak tahu

Engkau berenang di batang deras
Menjarak di tepian sungai lain
Menari nari di pulau asing
Menambah rindu jantung kami
Kami rayu engkau tak paham

Punahlah sudah segala yang ada
Hancurlah sudah segala tersisa
Kami hidup memakan janji
Kami mati berkalang rindu
Damar layu menyumpah tanah

Hidup kami tinggal khianat
Hutan kami tinggal ranggas
Ladang kami sekepak unggas
Anak kami sesat di jalan
Kami rindu mengasak laman

Tangan kami tak sekuat dulu
Hati kami tak lagi sekeras batu
Kekuasaan yang datang melindas
Seperti badai datang berulang
Hancurkan jiwa dan roh moyang

Mata kami tak seterang dulu
Di pagut raja ketika bertitah
Tinggal genang untuk menetes
Haru melihat sejauh pandang
Tanah ditebas hutan diasak

Punahlah sudah segala yang ada
Hancurlah sudah segala tersisa
Kami dah lupa jalan nak pulang
Tinggal tuha hidup mengenang
Kami mati di dalam kandang!
Aiii….

Airmolek, 12 - 2012

H. Dheni Kurnia, adalah seorang jurnalis senior
saat ini beliau mengemban amanah menjadi ketua PWI Riau

Akses PelitaRiau.Com Via Mobile m.pelitariau.com

TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

shadow
Copyright © 2014 PelitaRiau.Com All right reserved